Aku Tak Mau Memaafkanmu Kecuali...


Sosial-Budaya
Dipublikasikan: 2020-04-07 16:51:55
Dibaca: 95 Rating: 4.5/5.0 dari 4 voter Komentar: 2
Bagikan ke Sosial Media:



Bagaimana memaafkan orang lain yang telah melakukan kesalahan sangat besar?

Ketika saya beranjak dewasa, saya belajar satu prinsip kehidupan dari pengalaman saya, yakni:

"Satu perbuatan yang sulit tapi begitu mulia setelah tersakiti atau terzalimi adalah 'memaafkan' kesalahan orang lain."

Saya katakan "memaafkan itu sulit". Coba bayangkan:

  1. Sangat sulit membayangkan seorang memaafkan orang lain yang telah menipunya puluhan juta hingga menyengsarakan istri dan anak-anaknya selama puluhan tahun terlebih orang yang menipu itu merupakan kerabat dekatnya.
  2. Sangat sulit membayangkan seorang istri memaafkan suaminya setelah suaminya selingkuh dan menelantarkan istri dan anak-anaknya.
  3. Sangat sulit membayangkan korban perundungan memaafkan pelaku perundungan setelah semua perlakuan kejinya hingga membuat korban perundungan mengalami tekanan mental luar biasa bahkan setelah sekian tahun berlalu.

Begitu sulit memaafkan seorang setelah semua perlakuan zalim yang diberikan kepada kita sehingga merugikan diri kita baik secara psikis, fisik, maupun material.

Walaunpun demikian, saya juga menyadari manusia itu tak luput dari kesalahan. Mungkin orang lain telah berbuat zalim kepada kita. Tapi tunggu dulu, kita juga manusia, bukan? Tak mungkin kita tidak pernah berbuat kesalahan terhadap orang lain hingga menyakitinya, bukan?

Walaupun terkadang kita memang tidak bermaksud menyakitinya karena perbuatan kita. Tapi sungguh kita tidak mengetahui isi hati dan perasaan orang-orang di sekitar kita, bisa jadi kita melakukan sesuatu yang membuatnya kecewa hingga menyakiti perasaannya, bukan?

Karena itu, sesulit apapun seorang untuk memaafkan orang lain, tetap saja memaafkan itu perbuatan yang mulia, Bukan saja itu baik untuk menjalin persaudaraan dan perdamaian dalam komunitas atau kehidupan bermasyarakat. Tapi dengan memaafkan orang lain sama saja kita juga berempati terhadap sisi 'kemanusiaan' diri kita itu sendiri. Bahwa kita adalah manusia. Bahwa sebagai manusia, kita tak luput dari kesalahan, kelalaian, kekhilafan dan kedosaan. Kita bukan Iblis yang 100% jahat, kita juga bukan malaikat yang 100% baik. Kita adalah manusia yang secara potensial terdiri atas 50% kejahatan (laten) dan 50% kebaikan (laten).

Singkatnya, dengan membukakan kesempatan kepada orang lain untuk memaafkannya sama saja kita mengakuisisi sisi kemanusiaan diri kita untuk belajar menjadi pribadi yang lebih baik, belajar dari kesalahan, dan belajar untuk tidak mengulangi kesalahan serupa di kemudian hari.

Jika kita bisa memaafkan orang lain tentu kita memberikan kesempatan bagi dia untuk belajar menjadi pribadi lebih baik. Sama halnya ketika kita menjadi pelaku kejahatan itu sendiri, maka orang lain pun juga mungkin saja akan memberikan kesempatan bagi kita untuk belajar menjadi pribadi lebih baik. Karena itulah "memaafkan adalah perbuatan yang begitu mulia."

Di sisi lain, jangan mudah pula memaafkan orang lain sebelum dia beretikad untuk memperbaiki dirinya (begitu pun terjadi ketika kita yang menyakiti orang lain). Berilah kesempatan untuk memaafkan orang lain tapi mintalah bukti kepada orang yang telah menyakiti Anda bahwa dia memang pantas untuk dimaafkan. Anda bisa memberikan prasyarat baginya untuk menunjukkan dirinya memang pantas dimaafkan sebagai "pembuktiaan diri". Pembuktian diri itulah yang kita sebut sebagai 'penebusan dosa'. Misalnya:

  1. Saya (orang yang ditipu) akan memaafkan Anda (orang penipu) jika dan hanya jika Anda mau melunasi segala hutang Anda beserta biaya kerugiaan yang disebabkan hutang Anda.
  2. Saya (istri dari orang yang diselingkuhi) akan memaafkan Anda (suami yang berselingkuh) jika dan hanya jika Anda mau menafkahi anak-anak dan mau bercerai dengan saya.
  3. Saya (korban perundungan) akan memaafkan Anda (pelaku perundungan) jika dan hanya jika Anda mau menghentikan perundungan (di lingkungan sekitar Anda) dan menganti biaya kerugian para korban hasil perundungan Anda selama bertahun-tahun.

Dan yang paling penting adalah apakah yang bersangkutan (orang yang menyakiti Anda) itu memang beretikad atau terbukti mau berubah dari dosa kesalahannya? Jika dia tidak mau mengubah karakter negatif, bagaimana mungkin dia pantas dimaafkan? Andai hal ini tidak bisa dipenuhi tentu kesalahan serupa akan terus berlanjut hingga dia mau keluar dari dosanya yang berulang.

Karena itu, sebelum memaafkan orang lain pastikan terlebih dulu apakah dia memang sudah bertaubat atau belum? Bagaimana kita tahu dia telah bertaubat? Terdapat tiga ciri-ciri seorang telah bertaubat yakni:

  1. Menyesali kesalahannya, artinya dia menyadari sepenuhnya bahwa apa yang dulu ia lakukan terhadap orang lain itu suatu kesalahan atau kedosaan beserta kerugian yang ditimbulkan akibat perbuatannya.
  2. Berjanji berhenti untuk tidak melakukan kesalahannya di masa mendatang, artinya dia tidak akan mengulangi kesalahannya lagi dan jika dia mengulangi kesalahannya lagi maka dia bersedia untuk menerima hukuman beserta konsekuensinya secara "sadar".
  3. Memperbaiki kesalahannya, artinya dia menunjukkan perubahan karakter dari negatif menuju positif. Misalnya dari seorang pendusta menjadi seorang yang jujur, dari seorang selingkuh menjadi seorang yang setia, dari seorang yang pelit menjadi seorang yang dermawan, dari seorang yang hedonis menjadi seorang yang religius. Singkatnya terdapat perubahan karakter menjadi lebih baik secara dratis yang bisa teramati.

Memaafkan memang perbuatan mulia, tapi kita bukan orang bodoh yang mau memaafkan 'penjahat kambuhan' yang berkamuflase dalam kedok minta pengampunan.

"Pengampunan itu mahal."

Semoga kita bisa senantisa belajar menjadi pribadi yang lebih baik, pemaaf sekaligus bijaksana dalam memaafkan orang lain.

Semoga membantu.

 


Lebih banyak kontribusi Danar Dono:
Aku Tak Mau Memaafkanmu Kecuali...
Beri kami beri penilaian untuk menghargai karya kami:

2 Tanggapan Pembaca:

Artikel Terpopuler
...
Menghadapi Kesedihan Mendalam

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 09:35:11
Dibaca: 579

...
10 Alasan Rasional Menunda Pernikahan

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 22:49:34
Dibaca: 509

...
Mengatasi Asosial

mikasa ackerman | Sosial-Budaya 2020-03-01 09:40:11
Dibaca: 250

...
Menjadi Pribadi Produktif

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-23 12:21:27
Dibaca: 243

...
Perbedaan Bertabayyun dan Indoktrinasi

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 09:39:59
Dibaca: 234

Tagar Terpopuler