Bagaimana penyikapan terkait ajakan salat berjamaah saat wabah Korona?


Sosial-Budaya
Dipublikasikan: 2020-04-07 16:18:28
Dibaca: 80 Rating: 4.5/5.0 dari 4 voter Komentar: 0
Bagikan ke Sosial Media:



Bagaimana pendapatmu tentang ajakan jangan tinggalkan masjid karena takut Korona?

Jika Anda pernah belajar ushul fiqih mungkin tidak terasa asing istilah "maqashid asy syariah", yakni sebuah gagasan dalam hukum Islam (baca: syariah) diturunkan Allah untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.[1]

Maqashid asy syariah secara terperinci dijelaskan oleh Imam Syaithibi (w.790 H/1388 M) dalam tulisan beliau bernama kitab "al-Muwafaqat". [2] Beliau secara tegas mengemukakan bahwa tujuan Allah menetapkan hukum-hukum-Nya adalah untuk terwujudnya kemaslahatan hidup manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, taklif hukum harus mengarah pada realisasi tujuan hukum tersebut.

Sesuatu itu dapat dikatakan sebagai maqashid asy syari'ah ketika memenuhi syarat-syarat:[3]

  1. Bersifat tetap, yakni maknanya bersifat pasti atau diduga kuat mendekati kepastian.
  2. Jelas, sehingga para fuqaha tidak berbeda pendapat dalam penetapan makna hukumnya. Misalnya, memelihara keturunan adalah tujuan dari syariat pernikahan.
  3. Terukur, yakni ukuran untuk penetapan hukum itu jelas dan tidak diragukan. Misalnya, ukuran untuk mengharamkan perzinahan adalah merusak - menodai (nasab - silsilah) keturunan.
  4. Berlaku umum, yakni maknanya tidak akan berbeda karena perbedaan waktu dan tempat. Misalnya, hukum perzinahan adalah haram sampai kapanpun sebab dampak perzinahan yang bisa menodai keturunan (nasab) manusia.

Lebih lanjut, Imam Syaithibi menjelaskan bahwa tujuan syariah itu dibagi menjadi 2 macam yakni tujuan syari'at menurut perumusnya (syari') dan tujuan syari'at menurut pelakunya (mukallaf).

Tujuan syariah menurut perumusnya (Allah SWT sebagai perumus syariah) meliputi:[4]

  1. Tujuan utama syari'at adalah kemaslahatan manusia di dunia dan di akhirat.
  2. Syari'at sebagai sesuatu yang harus dipahami.
  3. Syari'at sebagai hukum taklifi yang harus dijalankan.
  4. Tujuan syari'at membawa manusia selalu di bawah naungan hukum.

Pada dasarnya syariah itu bertujuan untuk kemaslahatan manusia dalam menjalankan kehidupan di dunia maupun akhirat. Allah tidak membutuhkan ibadah hamba-Nya, karena ketaatan dan kemaksiatan hamba tidak memberikan pengaruh apapun terhadap kemulian Allah. Jadi, sasaran manfaat - kegunaan syariah tiada lain adalah untuk kebaikan - kepentingan manusia itu sendiri.

Maslahat sebagai substansi dari maqashid asy-syari'ah dapat dibagi sesuai dengan tinjauannya. Bila dilihat dari aspek pengaruhnya dalam kehidupan manusia, maslahat dapat dibagi menjadi tiga tingkatan maslahat:

  1. Dharuriyat (baca: kebutuhan primer), yaitu maslahat yang bersifat primer,di mana kehidupan manusia sangat tergantung padanya, baik aspek diniyah (agama) maupun aspek duniawi. Hal ini merupakan sesuatu yang tidak dapat ditinggalkan dalam kehidupan manusia. Jika itu tidak ada, kehidupan manusia di dunia menjadi hancur dan kehidupan akhirat menjadi rusak (mendapat siksa).
  2. Hajiyat (baca: kebutuhan sekunder), yaitu maslahat yang bersifat sekunder,yang diperlukan oleh manusia untuk mempermudah dalam kehidupan dan menghilangkan kesulitan maupun kesempitan. Jika ia tidak ada, akan terjadi kesulitan dan kesempitan yang implikasinya tidak sampai merusak kehidupan.
  3. Tahsiniyat (baca: kebutuhan tersier), yaitu maslahat yang merupakan tuntutan muru'ah (moral),dan itu dimaksudkan untuk kebaikan dan kemuliaan. Jika ia tidak ada, maka tidak sampai merusak ataupun menyulitkan kehidupan manusia. Maslahat tahsiniyat ini diperlukan sebagai kebutuhan tersier untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia.

Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa pemenuhan kebutuhan manusia itu mencakup lima kebutuhan mendasar meliputi:

  1. Hifdz ad-din (memelihara agama,) misalnya: syariat syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji.
  2. Hifdz an-nafs (memelihara jiwa), misalnya: syariat larangan bunuh diri, larangan membunuh tanpa alasan yang dibenarkan, perintah makan dan minum secara seimbang, dsb.
  3. Hifdz al-aql (memelihara akal), misalnya: larangan mabuk, perintah menuntut ilmu, perintah untuk menyebarluaskan ilmu, dsb.
  4. Hifdz al-mal (memelihara harta), misalnya: larangan mencuri, larangan mengurangi takaran timbangan, perintah mencari harta yang halal, dsb.
  5. Hifdz al-irdl (memelihara Kehormatan), misalnya: larangan berzina, perintah menikah, anjuran ta'aruf, dsb.

Kelima kebutuhan pokok tersebut diperlukan bagi manusia untuk bisa menjalankan kehidupan secara berimbang. Dalam hal ini, setiap kebutuhan terdiri atas 3 cakupan/ tingkatan meliputi dharuriyat, hajiyat dan tahsiniyat.

Misalnya, salat wajib dasarnya bertujuan untuk menegakkan agama dan memelihara agama (hifdz ad-din). Salat itu merupakan kewajian bagi setiap muslim yang mukallaf (memiliki kesadaran penuh - tidak gila atau kehilangan kesadaran). Berdasarkan maqashid asy syariah, syariat salat itu bisa berada pada 3 cakupan/ tingkatan meliputi:

  1. Dharuriyat, dalam kondisi apapun salat wajib dijalankan sekalipun berada dalam kondisi perang atau bencana alam untuk merealisasikan kewajiban taqwa kepada Allah SWT dan menegakkan tiang - pondasi beragama (Islam).
  2. Hajiyat, keharusan menghadap kiblat dalam salat. Tapi tidak mengapa (tidak menghadap kiblat) ketika tidak tahu arah kiblat atau berada pada situasi yang tidak memungkinkan untuk menghadap ke arah kiblat. Tidak mampu menghadap kiblat memang menganggu ibadah salat, tetapi tidak sampai mengugurkan sah-nya salat.
  3. Tahsiniyat, salat berjamaah itu dianjurkan sebab salat berjamaah memiliki keutamaan 27 derajat dibandingkan salat sendirian. Kendati demikian, seandainya seorang tidak mampu salat berjamaah karena alasan tertentu yang dibenarkan (termasuk dikhawatirkan akan terancam keselamatannya seperti wabah Corona), tidak mengapa jika salat sendirian. Dan salatnya tetap sah.

Realisasi pelaksanaan syariah pada dasarnya bisa menyesuaikan kondisi aktual berbagai problematika masyarakat - dalam hal antara dharuriyat, hajiyat dan tahsiniyat saling berkaitan satu sama lainnya. Adanya hajiyat untuk menyempurnakan dharuriyat. Sementara tahsiniyat untuk menyempurnakan hajiyat. Sedangkan Dharuriyat merupakan pondasi dasar berdirinya hajiyat dan tahsiniyat. Wallahu a’lam.

Demikian, kurang lebihnya mohon maaf. Semoga bermanfaat.

 


Lebih banyak kontribusi Danar Dono:
Bagaimana penyikapan terkait ajakan salat berjamaah saat wabah Korona?
Beri kami beri penilaian untuk menghargai karya kami:

0 Tanggapan Pembaca:


Artikel Terpopuler
...
Menghadapi Kesedihan Mendalam

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 09:35:11
Dibaca: 579

...
10 Alasan Rasional Menunda Pernikahan

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 22:49:34
Dibaca: 508

...
Mengatasi Asosial

mikasa ackerman | Sosial-Budaya 2020-03-01 09:40:11
Dibaca: 249

...
Menjadi Pribadi Produktif

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-23 12:21:27
Dibaca: 241

...
Perbedaan Bertabayyun dan Indoktrinasi

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 09:39:59
Dibaca: 234

Tagar Terpopuler