Menyikapi menghadapi IPK rendah di semester 1


Pendidikan
Dipublikasikan: 2020-02-24 09:37:59
Dibaca: 119 Rating: 3.333/5.0 dari 3 voter Komentar: 0
Bagikan ke Sosial Media:



Bagaimana sikap menghadapi IPK rendah di semester?

Izinkan saya turut menjawab pertanyaan ini. Saya tidak malu mengakui bahwa saya pernah mendapatkan IPK sebesar 2.33 pada semester 1. Saya begitu shock melihat hasil belajar saya begitu rendah.

Saya bertanya kepada diri saya: Kenapa hasil belajar saya bisa serendah itu? Dari berbagai perenungan (intropeksi diri) saya menemukan berbagai penyebabnya di antaranya:

  1. Kurang terbiasa dengan lingkungan akademik kampus. Di kampus saya mengalami "shock culture", yakni istilah yang digunakan bagi menggambarkan kegelisahan dan perasaan yang dirasakan apabila seseorang tinggal dalam kebudayaan yang berlainan sama sekali.[1] Hal ini terjadi karena kesenjangan yang begitu drastis antara lingkungan sekolah dan kampus. Di sekolah kita biasanya diajarkan menghafal materi belajar, asalkan kita menghafal materi biasanya prestasi (baca: nilai rapor) kita akan linear dengan hafalan kita. Tetapi di kampus kita mendapatkan pengajaran metode berpikir ilmiah. Singkatnya yang ditekankan adalah "bagaimana kita memahami masalah secara objektif dan menemukan solusi-solusi konkrit untuk memecahkannya." Akibatnya saya tidak bisa menggunakan cara-cara lama untuk menjawab soal-soal kuliah. Hasilnya begitulah IPK semester saya.
  2. Merasa minder menghadapi para mahasiswa satu angkatan yang dianggap memiliki 'high class'. Sejujurnya saya hanyalah anak perdesaan di salah satu Kabupaten di Jawa Tengah. Ketika saya berada di kampus kota di Surabaya, saya menemukan diri saya bersaing dengan orang-orang yang memiliki 'kelas' lebih tinggi daripada saya. Akibat karena kurang siapnya psikis saya membuatku menjadi minder, merasa tidak berdaya dihadapan rekan-rekan yang saya pandang lebih tinggi kelasnya. Walaupun sebenarnya persepsi saya itu tidak rasional, terkesan emosional semata.
  3. Berbagai tekanan dari luar lingkungan kampus yang membuat stres. Semester awal kuliah itu begitu berat bagi saya. Selain saya harus beradaptasi di kota besar untuk pertama kalinya dalam hidupku, saya juga menghadapi berbagai tekanan dari luar seperti masalah keluarga, keuangan, dan berbagai tekanan pergaulan yang membuat saya menjadi stres. Akibatnya saya kurang bisa berkonsentrasi ketika kuliah sehingga saya kurang bisa memahami materi kuliah.

Dari berbagai penyebab di atas saya belajar untuk memecahkan permasalahan belajar selama kuliah untuk memperbaiki prestasi saya. Oleh karena itu, saya menerapkan pemecahan sebagai berikut:

  1. Belajar beradaptasi di lingkungan kampus khususnya menyesuaikan pola pikir akademik - berpikir ilmiah. Selama 1 semester berikutnya (semester 2) saya hanya berusaha menekankan untuk beradaptasi di lingkungan kampus supaya pola pikir tekstual - hafalan bisa diubah menjadi pola pikir objektif - pemahaman masalah dan pemecahannya. Itulah yang saya usahakan untuk dicapai selama 1 semester berikutnya.
  2. Bersikap realistis - tidak membebani psikis dengan target IPK yang tinggi. Saya bersikap realistis, paham kekurangan dan kelebihan diri. Karena itu, saya tidak mau mematok target IPK yang tinggi. Saya menyadari IPK hanya bisa dicapai dengan belajar sungguh-sungguh menyesuaikan pola pikir akademik di kampus. Oleh karena itu, yang saya tekankan adalah bagaimana caranya supaya saya bisa mengerjakan soal-soal logik - memahami jalan memecahkan masalah, bukan memikirkan hasil jawabannya.
  3. Memupuk rasa percaya diri. Saya berusaha membangun kepercayaan diri saya kembali. Saya berusaha tak ambil pusing dari mana saya berasal dan siapa rekan-rekan satu kampus saya. Toh, kami juga sama-sama makan nasi, ngapain saya merasa minder. Minder itu tidak rasional.
  4. Memanajemen stres. Untuk mengatasi berbagai tekanan eksternal seperti masalah keluarga, keuangan, pergaulan, dsb, saya berusaha membuat prioritas daftar masalah yang harus dipecahkan satu per satu. Saya urutkan berdasarkan urgenitasnya lalu saya pecahkan masalahnya satu per satu dan menghindari multitasking guna meminimalisir stres. Hasilnya saya bisa menjadi lebih fokus untuk memecahkan masalah tersebut.

Alhamdulillah, pemecahan di atas cukup efektif. Hasilnya setelah 1 semester kemudian, hasil IPK meningkat dari sebelumnya 2.33 menjadi 3.33. Peningkatan yang cukup besar. Saya bersyukur bisa mengatasi berbagai masalah tersebut.

Terakhir, saya mau menekankan kepada kita untuk tidak berputus asa atau pesimis ketika menghadapi masalah. Barangkali Anda merasa minder melihat hasil IPK 2.0. Tetapi berusahalah untuk membangun optimisme.

Fokuslah pada pemecahan masalah dan bersabar menghadapinya, bukan malah meratap melihat IPK tersebut karena hal itu tidak akan menyelesaikan apapun, kecuali semakin membebani psikis Anda. Tetaplah percaya pada rahmat Tuhan dan jangan berputus asa!

Semoga membantu.

 


Lebih banyak kontribusi Danar Dono:
Menyikapi menghadapi IPK rendah di semester 1
Beri kami beri penilaian untuk menghargai karya kami:

0 Tanggapan Pembaca:


Artikel Terpopuler
...
Menghadapi Kesedihan Mendalam

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 09:35:11
Dibaca: 579

...
10 Alasan Rasional Menunda Pernikahan

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 22:49:34
Dibaca: 508

...
Mengatasi Asosial

mikasa ackerman | Sosial-Budaya 2020-03-01 09:40:11
Dibaca: 249

...
Menjadi Pribadi Produktif

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-23 12:21:27
Dibaca: 242

...
Perbedaan Bertabayyun dan Indoktrinasi

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 09:39:59
Dibaca: 234

Tagar Terpopuler