Beberapa Hal yang Sebaiknya tidak Dibagikan di Media Sosial


Sosial-Budaya
Dipublikasikan: 2020-02-24 09:33:24
Dibaca: 81 Rating: 4.333/5.0 dari 3 voter Komentar: 0
Bagikan ke Sosial Media:



Apa saja hal-hal yang tak sebaiknya dibagikan ke media sosial?

Menurut pribadi, beberapa hal yang seharusnya tidak dibagikan di media sosial di antaranya:

  1. Membagikan kehebatan diri: Satu kata untuk mendefinisikan orang-orang yang suka membagikan kehebatan dirinya (mohon maaf), "pamer", jatuhnya bisa menjadi sombong. Orang-orang yang membagikan kehebatan dirinya seringkali berargumen bahwa dia sedang memotivasi orang lain agar memiliki kehebatan seperti dirinya. Permasalahannya, bagaimana mungkin seorang termotivasi dengan hal semacam ini. Respon atas konten semacam ini biasanya hanya ada 2 respon, yakni: (1) Merasa semakin minder. "Wah, dia sudah punya pekerjaan hebat, sedangkan aku masih gini aja." "Wah, pasangannya cantik ya mereka terlihat bahagia, sedangkan aku masih jomblo di usia yang sudah tua." "Wah keren, dia bisa jalan-jalan ke luar negeri, sedangkan saya boro-boro mau jalan-jalan, buat makan saja masih susah." (2) Merasa tersaingi. "Dasar OKB (orang kaya baru), baru aja kaya kemarin sudah pamer." "Ngapain sih orang itu pamer nggak penting banget" "Baru nikah kemarin aja udah belagu, gue yang udah nikah 10 tahun aja nggak pamer kaya loe." Keduanya baik merasa minder maupun tersaingi jatuhnya adalah dengki. Jadi, memang lebih baik segala hal tentang kehebatan diri kita tidak perlu dibagikan ke media sosial. Toh, tujuannya juga tidak jelas. Lebih besar dampak negatifnya daripada dampak positifnya. Dalam takaran ekstrim bisa mengarah pada kecemburuan sosial. Jadi perbuatan ini lebih baik ditinggalkan saja.
  2. Membagikan ibadah dengan maksud riya: Sebenarnya tidak semua ibadah yang dibagikan ke media sosial itu riya, tetapi kebanyakkan ibadah yang dilakukan diri sendiri dan dibagikan ke media sosial biasanya jatuhnya riya, yakni menampakkan kebaikan diri untuk supaya dipuji atau dipandang terhormat 'di mata manusia'. Seringkali hawa nafsu manusia ingin dipuji, dipandang terhormat, dipandang dermawan memainkan perannya dalam diri manusia hingga tanpa dsadari dia malah menjadi riya. Saya memberikan ilustrasi tentang sedekah. Suatu ketika Anda memiliki sedikit uang (katakanlah Rp 1.000,-) tetapi ingin sedekah, lalu Anda memasukkan sedekah Anda pada kotak amal di masjid. Pertanyaannya: Apakah Anda 'berani' memperlihatkan kepada jamaah masjid bahwa Anda sedekah hanya Rp. 1.000,-? Tentu Anda akan malu, bukan? Direktur BUMN kok cuma sedekah seribu perak, malu dong. Begitulah kira-kira "suara hati" Anda. Jika demikian tentu Anda telah "riya", karena memandang kehormatan dari kacamata manusia dalam berbuat kebaikan. Sebenarnya tak soal Anda menampakkan sedekah Anda (walaupun seribu rupiah) atau tidak, toh kalau niatnya memang untuk berbuat kebaikan, mengapa tidak? Kan seorang bersedekah kecil atau besar itu tergantung kapasitasnya. Memang betul dia dirut BUMN tetapi dirut BUMN yang sedang mengalami masa krisis dimana perusahaan mau bangkrut. Jadi Anda memberikan uang sedikit memang karena Anda kurang mampu. Singkatnya memang segitu kemampuan Anda, jadi tidak soal. Tetapi kembali kepada hati manusia yang seringkali mudah goyah karena "omongan orang". Karena itu, Islam mengajarkan untuk bersedekah kalau ditakutkan menjadi riya, lebih baik dilakukan secara sembunyi-sembunyi daripada jatuh riya karena dipuji atau takut dihina manusia. Jangan sampai ibadah kita bernilai sia-sia hanya karena kita melakukan perbuatan riya.
  3. Kemesraan dengan pasangan: Sejujurnya perbuatan semacam ini membuat saya seringkali terheran-heran. Apakah yang bersangkutan itu tidak memikirkan orang lain ketika membagikan 'adegan kemesraannya'? Ingat media sosial itu tempat berkumpul segala segmen masyarakat. Anak-anak di bawah umur, remaja labil, orang dewasa yang sudah jomblo sekian puluh tahun, dll, apa yang Anda bagikan hanya akan merusak orang-orang tersebut. Anak-anak di bawah umur akan meniru perilaku kemesraan itu hingga terlibat perbuatan tak terpuji dengan bocil lainnya. Remaja labil akan meniru perbuatan itu hingga pacaran melampaui batas dan mengabaikan pendidikannya. Orang dewasa yang jomblo sekian tahun akan semakin iri dan mengutuk diri atas 'kurang beruntungnya' mereka. Singkat, jika Anda membagikan kemesraan Anda dengan pasangan (sekalipun sudah sah telah menikah), Anda hanya akan menjadi "bad role model" bagi generasi penerus bangsa. Lebih baik bermesraanlah dengan pasangan (sah) Anda di tempat privat karena hubungan Anda dengan pasangan (sah) Anda adalah hubungan privat, bukan konsumsi publik.
  4. Keluh kesah atau curhatan: Ketika Anda membagikan keluh kesah atau curhatan Anda kepada publik, maka bersiaplah dinilai masyarakat. Semua penilaian buruk dari masyarakat itu akan menjadi "label negatif" terhadap diri Anda, ujung-ujungnya kehormatan atau harga diri Anda akan jatuh. Kebanyakkan orang yang berkeluh kesah di media sosial akan menampakkan aibnya, padahal menjaga aib pribadi adalah keharusan bagi setiap pribadi yang menjunjung kehormatan dirinya maupun orang lain. Dengan membagikan curhatan kepada publik sama saja Anda sedang menjatuhkan diri Anda. Saya menyarankan lebih baik Anda curhat kepada sahabat, keluarga atau tenaga kesehatan mental profesional yang benar-benar bisa menjaga privasi dan memberikan saran yang membangun untuk mengatasi masalah personal Anda. Ini lebih baik daripada Anda menjatuhkan diri Anda di depan publik. Sayangilah diri Anda dengan menjaga kehormatan Anda, oke?
  5. Segala hal yang berhubungan dengan pornografi atau seksualitas yang tidak pada tempatnya: Kalau ini sudah masuk delik hukum, bisa jadi dikategorikan sebagai kejahatan, tak perlu saya komentari panjang lebar. Ini sekaligus sindiran keras bagi para anonim yang suka membagikan konten seksual pada platform media sosial. Biarlah UU ITE yang berbicara: "Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 miliar." - Pasal 45 ayat (1) UU 19/2016[1]
  6. Sentimen ujaran kebencian terhadap seseorang atau kelompok sosial tertentu (SARA): Sama dengan poin nomer 5, ini juga masuk delik hukum, dikategorikan sebagai kejahatan. Mari simak penjelasan UU ITE: "Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 miliar." - Pasal 45A ayat (2) UU 19/2016[2]

Terakhir saya memberikan saran terkait penggunaan media sosial secara arif dan bijak:

Demikian, ulasan tentang apa saja yang tak seharusnya dibagikan di media sosial. Tetap gunakanlah media sosial secara arif dan bijak untuk kehidupan bermasyarakat yang lebih baik.

Kurang lebihnya, mohon maaf. Semoga bermanfaat.

 


Lebih banyak kontribusi Danar Dono:
Beberapa Hal yang Sebaiknya tidak Dibagikan di Media Sosial
Beri kami beri penilaian untuk menghargai karya kami:

0 Tanggapan Pembaca:


Artikel Terpopuler
...
Menghadapi Kesedihan Mendalam

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 09:35:11
Dibaca: 579

...
10 Alasan Rasional Menunda Pernikahan

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 22:49:34
Dibaca: 508

...
Mengatasi Asosial

mikasa ackerman | Sosial-Budaya 2020-03-01 09:40:11
Dibaca: 249

...
Menjadi Pribadi Produktif

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-23 12:21:27
Dibaca: 242

...
Perbedaan Bertabayyun dan Indoktrinasi

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 09:39:59
Dibaca: 234

Tagar Terpopuler