Berbagai Paradoks dalam Kehidupan Sehari-Hari


Sosial-Budaya
Dipublikasikan: 2020-04-07 16:13:28
Dibaca: 82 Rating: 4.333/5.0 dari 3 voter Komentar: 0
Bagikan ke Sosial Media:



Apa saja berbagai paradoks dalam kehidupan sehari-hari?

Menurut KBBI, paradoks adalah pernyataan yang seolah-olah bertentangan (berlawanan) dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran.

Dalam paradoks terdapat dua atau lebih pernyataan/ peristiwa/ keadaan yang saling terkait/ inheren/ melekat satu sama lain, tetapi menimbulkan pertentangan satu sama lainnya. Tanpa kita sadari sebenarnya banyak paradoks dalam kehidupan kita yang bisa jadi kita lakukan tanpa sadar. Apa saja? Berikut ini disajikan beberapa paradoks yang terjadi pada kehidupan sehari-hari:

  1. Semakin Anda menganggap diri Anda baik, maka semakin buruk diri Anda. Ketika seseorang yang menganggap dirinya 'telah baik', suci, sudah benar, maka dia tidak akan mau menerima kritik, masukan dari orang lain, bahkan tersirat 'keangkuhan' dalam dirinya. Dengan sendirinya dia menjadi tidak baik. Karena itu, cara terbaik untuk menjadi orang baik adalah dengan senantiasa merasa diri serba kurang, belum baik, belum sempurna, tidak suci, masih memperbaiki diri, sehingga dia akan selalu berusaha memperbaiki dirinya tanpa menghujat orang lain.
  2. Semakin Anda menganggap diri Anda pintar, maka semakin bodoh diri Anda. Ketika seseorang beranggapan dirinya sudah pintar, maka dia akan berhenti belajar hingga dia akan tertinggal dari orang lain yang selalu belajar. Dengan sendirinya dia akan menjadi bodoh, jumud, tertinggal dari orang atau bangsa lain. Karena itu, cara terbaik untuk menjaga kepandaian adalah dengan selalu belajar hal-hal baru, mengingat ilmu itu bersifat universal dan berkembang.
  3. Semakin Anda belajar, semakin Anda merasa bodoh, tidak mengetahui banyak hal. Ilmu pengetahuan itu sangat luas dan dalam. Ketika Anda memperdalam untuk belajar pada ilmu spesifik (spesialisasi), maka Anda akan menjadi tidak mengetahui ilmu pengetahuan lainnya (menjadi bodoh dari ilmu yang tak Anda kuasai). Sebaliknya, jika Anda belajar banyak ilmu pengetahuan tanpa pendalaman, Anda akan menjadi tidak ahli hingga hampir tidak dapat melakukan memecahkan masalah yang membutuhkan keahlian spesifik, kecuali sekedar normatif. Karena itu, hendaknya kita belajar ilmu spesifik sebagai keahlian utama dan juga berusaha belajar ilmu umum lainnya sebagai wawasan.
  4. Kepandaian sejati melahirkan kerendahan hati. Semakin banyak ilmu yang dipelajari seseorang dan direnungkan dalam hidupnya, dia akan menjadi manusia yang rendah hati, karena ia tahu di atas langit masih ada langit. Dia akan selalu menaruh hormat terhadap sesama, karena dia tahu orang lain mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang tidak diketahuinya. Jika Anda menyimak Al-Quran, Anda akan menemukan kisah Nabi Musa as dan Nabi Khidir as terkait hal ini.
  5. Semakin Anda mengejar kebahagiaan, semakin Anda menderita. Jika Anda mengejar kebahagiaan khususnya kebahagiaan material, Anda akan menjadi menderita. Anda akan berusaha bekerja keras siang-malam, menghabiskan banyak waktu untuk bekerja, bekerja dan bekerja, pada akhirnya Anda tidak bisa menikmati apa yang Anda usahakan hingga pada suatu ketika Anda akan menyesal karena terlalu banyak bekerja untuk mengejar kebahagiaan (material) dan tak bisa menikmati hasilnya kecuali sedikit. Jadi cara terbaik untuk bahagia adalah bersyukur, menerima, bekerja keras tetapi tidak memaksakan diri, dan menghargai segala karunia kehidupan Anda - apa saja yang Anda terima, bukan apa saja yang Anda tak miliki.
  6. Semakin Anda kaya (secara material), semakin Anda merasa miskin. Ketika Anda berusaha memupuk kekayaan sebesar-besarnya, maka selamanya Anda akan merasa kekurangan. Karena hasrat manusia yang tak terbatas selalu menuntut untuk mendapatkan lebih, lebih, lebih, dst, hingga Anda selalu merasa miskin. Fenomena ini disebut "hedonic treadmill". Karena itu, kekayaan sejati tidaklah diukur dari seberapa banyak harta Anda, tetapi kekayaan sejati itu diukur seberapa bijaksana Anda menggunakan kekayaan Anda untuk bermanfaat bagi sesama.
  7. Semakin Anda 'memberontak', semakin Anda tertuduh bersalah. Ketika Anda memberontak dari kesalahan yang dituduhkan orang lain, maka orang lain akan semakin menuduh Anda sebagai orang yang bersalah, sekalipun sebenarnya Anda tidak bersalah. Oleh sebab itu, cara terbaik untuk meluruskan tuduhan adalah dengan bersikap terbuka, mau diajak berkompromi, berdiskusi dan menjawab segala tuduhan dengan kepala dingin, bukan dengan emosional.
  8. Semakin Anda mempercantik diri, semakin Anda merasa jelek. Ketika Anda berusaha mempercantik diri Anda, maka Anda akan menganggap diri Anda tidak cantik (jelek). Hal ini disebabkan karena Anda secara alamiah akan membandingkan diri Anda dengan 'standar kecantikan iklan', membandingkan diri Anda dengan para model dan selebritis, hingga Anda akan menggunakan segala macam produk kecantikkan bahkan melakukan operasi plastik supaya menyamai 'kecantikan buatan'. Dengan sendirinya Anda akan menjadi 'budak' kecantikan dan industri kosmetik. Karena itu, kecantikan sejati tidaklah diukur dari seberapa cantik Anda dengan kosmetik, tetapi kecantikan sejati adalah aura yang terpancar dari diri Anda yang 'terawat' tanpa berusaha membandingkan dengan kecantikan orang lain.
  9. Semakin Anda mendebat orang yang membenci Anda, semakin Anda dibenci olehnya. Ketika seseorang melontarkan kritikkan di publik kepada Anda biasanya didasari oleh motif kebencian terhadap Anda. Mendebat orang yang sedang berada pada kebencian hanya akan membuat dia semakin marah kepada Anda, karena tidaklah orang membenci kecuali dia merasa dirinya lebih benar daripada orang yang dia benci. Karena itu, salah satu cara terbaik untuk menghentikan orang yang membenci Anda supaya dia tidak mengkritik macam-macam pada ranah publik adalah dengan 'mendiamkannya' atau jika Anda pikir kritiknya telah menjatuhkan martabat Anda, maka lebih baik dilaporkan kepada pihak yang berwajib atas pasal pencemaran nama baik.
  10. Semakin Anda merasa 'tidak bersalah', semakin Anda bersalah. Jika Anda jarang atau hampir tidak pernah merasa bersalah dalam menjalani kehidupan sehari-hari, maka Anda akan menjadi bersalah dengan sendirinya. Karena ketika Anda menutup diri dari 'rasa bersalah', Anda menjadi tidak mempedulikan kesalahan Anda baik terhadap diri sendiri, orang lain, bahkan Tuhan. Banyak orang yang tidak mau tahu, menjalani hidup apa adanya, tanpa pernah mengintropeksi dirinya dan kehidupannya, hingga terjerumus dalam kedosaan. Hal ini disebut sebagai 'kelalaian', yakni ketika Anda tidak mempedulikan kewajiban Anda sebagai manusia.
  11. Semakin Anda mencela orang lain, semakin tercela diri Anda. Kebiasaan suka mencela, menghina, menghujat, menebar kebencian, ghibah, fitnah pada dasarnya merupakan moral orang tercela. Dengan sendirinya ketika Anda mencela orang lain, Anda akan menjadi orang yang tercela (tidak mulia).
  12. Semakin Anda memaksakan cinta, semakin Anda tak bisa mendapatkan cinta. Ketika Anda memaksakan seseorang untuk mencintai Anda dengan segala cara hingga memaksanya untuk menikahi Anda, pada akhirnya Anda akan menemukan kenyataan bahwa orang yang Anda cintai tidak bisa mencintai Anda, tidak mau memberikan kasih sayangnya kepada Anda, sehingga Anda akan merasa tidak bahagia dan kesepian. Cinta memang bukan untuk dipaksakan, tetapi cinta adalah apa yang Anda berikan kepada orang yang Anda cintai secara tulus. Karena itu, salah satu cara terbaik untuk membuat orang yang Anda cintai menerima Anda adalah dengan memberikannya 'pilihan' untuk menerima Anda atau menolak Anda dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
  13. Semakin Anda menghitung kebaikan Anda, semakin Anda malas berbuat kebaikan. Jika Anda menghitung kebaikan Anda secara rinci, maka Anda akan merasa berpuas diri, merasa kebaikan Anda telah banyak, sehingga akhirnya Anda akan malas berbuat kebaikan. Karena itu, salah satu cara terbaik untuk konsisten berbuat baik adalah dengan tidak memikirkan kebaikan yang telah kita lakukan pada masa lampau.
  14. Semakin Anda memperdulikan banyak masalah, semakin menambah masalah Anda. Ketika Anda memikirkan banyak masalah yang tak bisa Anda tangani karena kapasitas diri yang terbatas, pada akhirnya Anda akan menjadi bingung hingga tak bisa menyelesaikan banyak masalah tersebut. Dengan sendirinya Anda akan menambah masalah Anda dengan kebingungan Anda. Karena itu, salah satu cara terbaik untuk menyelesaikan masalah adalah dengan 'fokus' menyelesaikan masalah satu per satu berdasarkan prioritas dan sesuai kapasitas Anda. Bagaimana pun juga Anda tidak bertanggungjawab terhadap masalah-masalah yang bukan tugas Anda atau Anda tak punya kapasitas untuk menyelesaikannya.
  15. Semakin Anda lari dari masalah, semakin mendekati masalah Anda. Banyak orang yang lari dari masalah hidupnya hingga pada suatu ketika dia menyadari masalah itu mendekatinya atau memaksanya untuk menyelesaikannya. Misalnya, seorang malas belajar dan tak mau sekolah, tetapi seiring berjalan waktu dia menyadari bahwa keputusannya tidak sekolah membuat dirinya menjadi kesusahan dalam mencari nafkah, sehingga menuntutnya untuk 'belajar informal' melalui pengalaman hidupnya. Dengan sendirinya, dia menghadapi masa sekolahnya. Karena itu, satu-satunya cara untuk terhindar dari masalah adalah dengan menerima diri dan berani menghadapi masalah kehidupan sehingga kita akan menjadi pribadi yang maju.

Perlu dipahami, paradoks adalah "kenyataan hidup". Tidak semua paradoks itu buruk. Beberapa paradoks juga bisa melahirkan keseimbangan dan harmoni dalam kehidupan manusia. Karena itu, pentingnya memahami paradoks untuk digunakan sebagai kebijaksanaan untuk memikirkan dan merenungkan kembali konsekuensi logis atas tindakan kita. Jika paradoks itu melahirkan kerusakan, sebaiknya kita menghindarinya. Tetapi jika paradoks itu melahirkan perbaikan, sebaiknya kita melakukannya.

Demikian, kurang lebihnya mohon maaf. Semoga bermanfaat.

 


Lebih banyak kontribusi Danar Dono:
Berbagai Paradoks dalam Kehidupan Sehari-Hari
Beri kami beri penilaian untuk menghargai karya kami:

0 Tanggapan Pembaca:


Artikel Terpopuler
...
Menghadapi Kesedihan Mendalam

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 09:35:11
Dibaca: 579

...
10 Alasan Rasional Menunda Pernikahan

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 22:49:34
Dibaca: 509

...
Mengatasi Asosial

mikasa ackerman | Sosial-Budaya 2020-03-01 09:40:11
Dibaca: 250

...
Menjadi Pribadi Produktif

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-23 12:21:27
Dibaca: 243

...
Perbedaan Bertabayyun dan Indoktrinasi

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 09:39:59
Dibaca: 234

Tagar Terpopuler