Jangan Ragu Memuji Ketampanan atau Kecantikan Diri Sendiri


Sosial-Budaya
Dipublikasikan: 2020-04-07 16:42:04
Dibaca: 83 Rating: 3.5/5.0 dari 4 voter Komentar: 0
Bagikan ke Sosial Media:



Bolehkah aku menyebut diriku tampan/ cantik?

Tentu "etis" mengatakan diri sendiri "cantik" (bagi wanita) dan "tampan" (bagi pria). Faktanya, salah satu metode membangun kepercayaan diri adalah dengan menjaga penampilan diri supaya tetap "cantik" atau "tampan".[1]

Sebagian orang merasa dirinya kurang percaya diri hanya karena menganggap dirinya kurang secara facial/ fisik/ penampilan dibandingkan orang lain. Misalnya, merasa minder karena merasa terlalu gendut/ kurus, merasa minder karena kulitnya hitam/ cokelat. Padahal setiap orang mempunyai standar fisik yang berbeda satu sama lain. Cantik bagi orang Afrika tentu berbeda dengan cantiknya orang Jawa. Pertanyaannya, kalau bukan diri kita sendiri yang menghargai (potensi) kecantikan atau ketampanan diri sendiri, lalu kepada siapa lagi kita berharap?

Yang tidak etis adalah ketika merendahkan orang lain hanya karena 'merasa lebih cantik atau tampan' daripada lainnya. Misalnya, orang Eropa (yang lazim terjadi selama era kolonialisme) merendahkan orang Afrika (baca: pribumi Afrika) atau orang Jawa (baca: pribumi Jawa) hanya karena merasa dirinya lebih cantik atau tampan, lebih putih daripada orang Afrika atau orang Jawa. Jika demikian, tentu jatuhnya rasisme a.k.a narsisme alias sombong . Inilah yang seharusnya dihindari yakni "merasa lebih tampan atau cantik" daripada lainnya.

Kenyataannya, kita seringkali masih menemui permasalahan semacam ini di sekitar kita. Contoh sederhananya, mengatakan orang tertentu dengan sebutan gendut lah, kerempeng lah, hitam lah, dsb. Jika demikian, tentu hal ini bisa dipandang sebagai pelecehan terhadap fisik seorang atau dikenal sebagai "body shamming", yakni perilaku mengkritik atau mengomentari fisik atau tubuh diri sendiri maupun orang lain dengan cara yang negatif entah mengejek tubuh gendut, kurus, pendek, atau tinggi, sama seperti saat seseorang melakukan bullying secara verbal.[2]

Gambar ilustrasi body shamming pada salah satu komentar Instragram[3]

Oleh karena itu, mulai sekarang:

  1. Stop membandingkan kualitas kecantikan atau ketampanan diri dengan orang lain!
  2. Stop merendahkan fisik orang lain!
  3. Stop narsisme!
  4. Stop rasisme!
  5. Mulailah menghargai (potensi) kecantikan atau ketampanan diri sendiri dimulai dengan merawat, menjaga kebersihan diri dan penampilan diri.

Jika dengan menyebut (menghargai) diri sendiri tampan (bagi pria) bisa membuatku menjadi lebih percaya diri, maka dengan lantang saya katakan: "Saya tampan" dengan segala rasa hormat saya terhadap (potensi) ketampanan orang lain.

"Karena ketampanan atau kecantikkan adalah hak segala bangsa."

Semoga menjawab.

 


Lebih banyak kontribusi Danar Dono:
Jangan Ragu Memuji Ketampanan atau Kecantikan Diri Sendiri
Beri kami beri penilaian untuk menghargai karya kami:

0 Tanggapan Pembaca:


Artikel Terpopuler
...
Menghadapi Kesedihan Mendalam

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 09:35:11
Dibaca: 580

...
10 Alasan Rasional Menunda Pernikahan

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 22:49:34
Dibaca: 509

...
Mengatasi Asosial

mikasa ackerman | Sosial-Budaya 2020-03-01 09:40:11
Dibaca: 251

...
Menjadi Pribadi Produktif

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-23 12:21:27
Dibaca: 243

...
Perbedaan Bertabayyun dan Indoktrinasi

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 09:39:59
Dibaca: 237

Tagar Terpopuler