Makna Cinta yang Sebenarnya


Sosial-Budaya
Dipublikasikan: 2020-04-07 15:39:00
Dibaca: 84 Rating: 4.2/5.0 dari 5 voter Komentar: 4
Bagikan ke Sosial Media:



Apa itu cinta?

Pernahkan Anda merasa ‘terasaing’, merasa sendiri, hampa, kehilangan makna atas kehidupan?  Pada dasarnya, kita sebagai manusia mempunyai kesadaran atas eksistensi bahwa kita merasa terasing dan tidak berdaya terhadap dunia luar sehingga kita menderita. Karena itu, kita harus membangun hubungan dengan dunia luar untuk menemukan eksistensi  kita sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.  Oleh karena itu, kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari cinta. Yeah, cinta pada dasarnya merupakan cara seseorang dalam membangun hubungan dengan dunia luar secara totalitas.

Tak melulu bicara romansa (hubungan dengan lawan jenis), cinta merupakan fitrah yang dimiliki oleh setiap manusia untuk membangun hubungannya dengan ‘entitas’ di luar dirinya hingga ia menemukan ‘arti’ dari hidupnya.  Hubungan ini bisa berwujud:

  1. Hubungan manusia dengan Allah SWT.
  2. Hubungan manusia dengan sesama manusia.
  3. Hubungan manusia dengan lingkungan hidup.

Untuk membangun cinta yang baik dan seimbang, Anda harus memahami prinsip-prinsip mencintai sebagai berikut:

  1. Kebahagiaan

Muara akhir dari setiap cinta adalah kebahagiaan. Karena itu sebelum mencintai, kita perlu mendefinisikan kebahagiaan, yakni: “Pengalaman dan sikap positif atas kepemilikan kehidupan kita ditandai dengan adanya komponen kognitif berupa kepuasaan hidup dan komponen afektif berupa afek (perubahan emosi) positif yang tinggi dan afek negatif yang rendah.”

Pada dasarnya kebahagiaan adalah kepuasan batin universal jauh dari segala macam penderitaan. Dalam Islam, kebahagiaan yang hakiki ialah kebaikan hidup di dunia dan akhirat.

Ya Allah, berilah kepada kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari siksa neraka.” [QS. Al Baqarah 2 : 201]

 

  1. Kemuliaan

Mencintai tidak lepas dari ‘pesona’ atau daya tarik yang membuat kiita merasa ‘membutuhkannya’, ingin memilikinya karena ia mempunyai sesuatu yang ‘bernilai’, berharga bagi kita berupa manfaat atau nilai tertentu sehingga kita merasa bergantung kepadanya.

Inilah yang disebut sebagai kemuliaan. Kita mencintai karena kita membutuhkannya untuk bisa membuat kita meraih kebahagiaan. Karena itu kita membutuhkan Dzat Yang Maha Mulia. Dialah yang mampu memberikan kita manfaat dan menjauhkan kita dari segala macam mudharat atau penderitaan abadi.

Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak memberi mudharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.” [QS. Yunus 10 : 106]

  1. Ketakwaan

Setelah kitta memahami keberkahan hidup berasal dari Allah SWT. Kita akan merasa bergantung kepada-Nya hingga memunculkan sikap kerendahan hati di hadapan-Nya sehingga kita menundukkan diri sebagai hamba-Nya.

Kepasrahan untuk senantiasa mengikuti perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sehingga memunculkan ‘komitmen’ diri untuk senantiasa mengikatkan segala sesuatu hanya kepada-Nya.

Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahkan nikmat oleh Allah yaitu para nabi, para pecinta kebenaran, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” [QS. An Nisa 4 : 69]

  1. Ketulusan

Untuk menjalankan komitmen atas hubungan, kita membutuhkan ‘kesungguhan tekad’ untuk memelihara dan membina hubungan dengan sesuatu yang kita cintai. Itulah yang disebut sebagai ketulusan, yakni kemauan untuk senantiasa mencurahkan segala daya upaya agar hubungan tetap terbina dan lestari. Dari sinilah timbul pengorbanan dan kesetiaan terhadapnya.

Dari Nabi Ibrahim as kita belajar bagaimana artik ketulusan dalam mencintai Allah SWT, sehingga beliau bersedia merelakan anaknya (Ismail as) dikorbankan demi membuktikan ketulusan cintanya kepada Dzat Yang Maha Penyayang.

Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia (Ismail) menjawab:’Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ ” [QS. Ash Shaaffaat 37 : 10]

  1. Kasih Sayang

Ketika kita mencintai, kita akan selalu merasa ingin dekat denganya. Selalu ingin bersama dan mengharapkan perhatiannya. Karena itu, kita akan semakin intensif menjalankan ‘komitmen’ yang telah dibina dan dipelihara hingga timbullah perhatian dan kefokusan kepada sesuatu yang kita cintai.

Dan tak ingatkan kita dengan kisah Rasulullah ketika beliau merasa jauh dari perhatian-Nya karena wahyu yang tak kunjung turun selama periode vakum wahyu pada dakwah sirri, hingga Allah menjawab kerinduan beliau melalui turunya QS. Ad Dhuha ayat 1 – 11, yang memberitakan bagaimana kasih sayang-Nya kepada beliau, sehingga beliau diperintahkan-Nya untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan menggunakan karunia-Nya untuk tegaknya dakwah.

Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.

[QS. Ad Dhuha 93 : 11]

  1. Keadilan

Terkadang cinta bisa membutakan rasionalitas, karena tekanan emosional yang menekan batin hingga tak jarang manusia kehilangan ‘kesadaran dirinya’.

Karena itu cinta perlu dipelihara dengan asas keadilan, yakni memperhatikan batasan hak dan kewajiban di antara pihak-pihak yang berkomitmen.

Ketika kita bersikap adil dalam mencintai, maka kita akan menghormati keberadaan sesuatu yang kita cintai, memeliharanya dan tidak merusaknya, sehingga kita begitu memegang tanggung jawab kita.

“Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.” [HR. Bukhari]

Demikian prinsip-prinsip cinta yang rasional. Semoga Allah menjauhkan kita dari segala bentuk cinta buta, yakni cinta yang merusak keimanan, merusak amalan saleh, merusak diri dan merusak lingkungan hidup.

Dengan membangun cinta yang rasional, semoga kita bisa memelihara hubungan kita yang baik dengan Allah SWT sebagai Tuhan dan hamba-Nya; memelihara hubungan kita dengan sesama umat manusia; dan memelihara hubungan kita dengan lingkungan hidup sebagai sesama makhluk.

Dan semoga melalui cinta rasional, tersebarlah rahmat, kebaikan, kedamaian, keberkahan, keselamatan, dan keharmonisan di antara kita dalam alam semesta baik di dunia dan akhirat.


Lebih banyak kontribusi Danar Dono:
Makna Cinta yang Sebenarnya
Beri kami beri penilaian untuk menghargai karya kami:

4 Tanggapan Pembaca:


    Reddy Alexandro | 2020-12-16 14:03:29

    Saya ingatkan bahwa memakan ayam kebanyakan bisa menyebabkan kelebihan berat badan.


    Reddy Alexandro | 2020-12-16 14:05:31

    Saya ingatkan bahwa memakan ayam kebanyakan bisa menyebabkan kelebihan berat badan.


    Reddy Alexandro | 2020-12-16 14:06:01

    Saya ingatkan bahwa memakan ayam kebanyakan bisa menyebabkan kelebihan lemak.


    Febri Sawaludin | 2021-01-07 20:37:39

    Bagus Artikelnya


Artikel Terpopuler
...
Menghadapi Kesedihan Mendalam

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 09:35:11
Dibaca: 579

...
10 Alasan Rasional Menunda Pernikahan

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 22:49:34
Dibaca: 509

...
Mengatasi Asosial

mikasa ackerman | Sosial-Budaya 2020-03-01 09:40:11
Dibaca: 250

...
Menjadi Pribadi Produktif

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-23 12:21:27
Dibaca: 243

...
Perbedaan Bertabayyun dan Indoktrinasi

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 09:39:59
Dibaca: 234

Tagar Terpopuler