Memahami Karakter Manusia


Sosial-Budaya
Dipublikasikan: 2020-02-24 09:19:28
Dibaca: 106 Rating: 4/5.0 dari 4 voter Komentar: 0
Bagikan ke Sosial Media:



Bagaimana memahami karakter seorang?

Menurut KBBI, kepribadian merupakan sifat hakiki yang tercermin pada sikap seseorang atau suatu bangsa yang membedakannya dari orang atau bangsa lain. Bisa dikatakan kepribadian merupakan seperangkat sifat akumulatif yang melekat pada diri seseorang hasil dari internalisasi nilai-nilai, kebiasaan, pendidikan, kebudayaan, dan pengaruh lingkungannya.

Kikir-dermawan, objektif-subjektif, jujur-pendusta, amanah-khianat, merupakan beberapa contoh dari sifat-sifat kepribadian.

Sifat kepribadian ini akan terlihat ketika menghadapi stimulus atau kondisi tertentu. Oleh karena itu, untuk melihat sifat/ karakter seseorang bisa diketahui dari responnya terhadap stimulus/ kondisi yang dihadapinya.

Ada beberapa cara untuk mengetahui karakter tersembunyi dari seorang di antaranya:

  1. Perhatikan bagaimana respon orang tersebut ketika dihadapkan pada situasi yang membuatnya "marah". Jika dia menahan diri untuk tidak melakukan kekerasan dan bahkan masih bisa berkata santun kemungkinan besar dia memang orang yang penyabar lagi penyantun. Jika dia melakukan kekerasan baik secara fisik maupun verbal (mengeluarkan kata-kata sarkas atau kata-kata kotor) kemungkinan besar dia termasuk orang yang tidak sabar lagi kasar.
  2. Perhatikan bagaimana respon orang tersebut ketika "berhutang". Jika dia berhutang, lalu segera melunasi secepatnya bahkan tanpa ditagih tetap membayar hutangnya kemungkinan besar dia memang orang yang tahu diri lagi tahu berterima kasih terhadap kebaikan orang lain. Jika dia berhutang, lalu menunda-nunda bahkan ketika ditagih menjadi 'galak' kemungkinan besar dia termasuk orang yang tidak tahu diri lagi tidak tahu terima kasih terhadap kebaikan orang lain.
  3. Perhatikan bagaimana respon orang tersebut ketika berada di situasi yang "lapang" (berkecukupan). Jika dia menafkahkan sebagian hartanya untuk bersedekah kemungkinan besar dia memang dermawan. Jika dia tidak mau menafkahkan sebagian hartanya untuk bersedekah dan hanya mau menggunakan hartanya untuk ‘membahagiakan’ dirinya kemungkinan besar dia memang orang kikir.
  4. Perhatikan bagaiman respon orang tersebut ketika "membelanjakan hartanya". Jika dia membeli sesuatu sesuai dengan kebutuhannya kemungkinan besar orang itu kemungkinan besar orang itu termasuk orang yang hemat. Jika dia membeli sesuai sesuai dengan keinginannya kemungkinan besar orang itu termasuk orang yang boros.
  5. Perhatikan bagaimana respon orang tersebut ketika diberikan “kritik”. Jika dia menerima kritik dan mengapreasiasi kritik tersebut kemungkinan besar dia adalah orang yang berpikir terbuka dan menghargai orang lain. Jika dia tidak menerima kritik (atau membela dirinya) dan bersikap sinis terhadap orang yang mengkritik kemungkinan besar dia adalah orang yang berpikir tertutup dan enggan menghargai orang lain.
  6. Perhatikan bagaimana respon orang tersebut ketika diajak berbicara tentang "masa depan". Jika orang itu hanya membicarakan tentang impiannya secara personal dan berbobot 'keduniawian' (seperti hidup kaya raya, miliki pasangan rupawan dan anak-anak manis, memiliki jabatan tinggi, dll) kemungkinan besar orientasi hidupnya hanya untuk personal-keduniawian. Jika orang itu membicarakan tentang impiannya terkait kemaslahan umum dan berbobot keakhiratan (seperti beramal saleh - menyejahterakan masyarakat, mencerdaskan kehidupan bangsa, berkontribuasi terhadap pembangunan masyarakat, membangun kelurga saleh, dll) kemungkinan besar orientasi hidupnya untuk sosial-keakhiratan.
  7. Perhatikan bagaimana respon orang tersebut ketika dia memberikan "janji". Jika dia selalu berusaha menempati janji kemungkinan besar dia memang orang yang jujur lagi amanah. Jika dia mengingkari (atau melupakan) janjinya kemungkinan besar dia memang orang pendusta lagi tidak bisa dipercaya.
  8. Perhatikan bagaimana respon orang tersebut ketika diberikan "tanggungjawab". Jika dia selalu berusaha mengerjakan tugasnya sebaik mungkin sesuai dengan kapasitas dirinya kemungkinan besar dia termasuk orang yang bertanggungjawab. Jika dia menunda-nunda tugas itu tetapi tetap mengerjakannya kemungkinan besar dia termasuk orang yang pemalas. Jika dia enggan mengerjakan tugasnya kemungkinan besar dia termasuk orang yang tidak bertanggungjawab.
  9. Perhatikan bagaimana respon orang tersebut ketika mencari "calon pasangan hidupnya". Jika dia selalu memprioritaskan kriteria kesalehan di atas kriteria lainnya kemungkinan besar dia memang orang yang religius. Jika dia selalu memprioritaskan kriteria finansial, fisik, dan material lainnya tanpa mempedulikan kualitas kesalehan dari calonnya kemungkinan besar dia memang orang yang kurang (atau bahkan tidak) religius.
  10. Perhatikan bagaimana respon orang tersebut ketika “mencapai target" dalam hidupnya. Jika dia menganggap kesuksesan hidupnya sebagai hasil perih payah sendiri kemungkinan besar dia memang orang yang sombong atau angkuh. Jika dia menganggap kesuksesan hidupnya sebagai hasil perih payah dirinya dibantu oleh orang lain seperti keluarga dan rekan-rekannnya kemungkinan besar dia memang orang yang rendah hati.
  11. Perhatikan bagaimana respon orang tersebut ketika memiliki sesuatu yang "mewah". Jika dia memamerkan apa yang dia miliki kepada orang lain kemungkinan besar dia memang orang yang narsis lagi pamer. Jika dia menyembunyikan apa yang dia miliki untuk tidak diperlihatkan kemungkinan besar dia memang orang yang tidak suka pamer.
  12. Perhatikan bagaimana respon orang tersebut ketika mendapatkan “kabar burung” (kabar yang tidak jelas sumbernya). Jika orang itu berusaha meneliti dulu terkait kebenaran kabar tersebut kemungkinan besar orang itu termasuk orang yang berpikir objektif. Jika orang itu langsung mempercayainya sesuai dengan persepsi/ keyakinannya kemungkinan besar dia termasuk orang yang berpikir subjektif.
  13. Perhatikan bagaimana respon orang tersebut dalam "mendidik" orang lain. Jika orang itu berusaha selalu mengajak orang lain untuk memberdayakan akal sehat dalam melakukan sesuatu kemungkinan besar dia termasuk tipe pengajar. Jika orang itu berusaha memerintah atau melarang orang lain untuk melakukan sesuatu secara sepihak kemungkinan besar dia termasuk tipe pendokrin.
  14. Perhatikan bagaimana respon orang tersebut ketika berada dalam kondisi “sendirian” (tanpa pengawasan dari pihak ke-3). Jika orang itu tidak bisa menjaga kehormatan (kesuciaan) dirinya dan/ atau melakukan perbuatan menyimpang kemungkinan besar orang itu memang berpendirian lemah (berego lemah). Jika orang itu bisa menjaga kehormatan (kesuciaan) dirinya kemungkinan besar orang itu memang berpendirian teguh (berego kuat).
  15. Perhatikan bagaimana respon orang tersebut ketika mendapatkan “kabar gembira” dari orang-orang yang dekat dengannya (misalnya mendapatkan kabar pernikahan sahabatnya, kelulusan sahabatnya, kenaikkan pangkat sahabatnya, dll). Jika orang itu merasa ikut senang dan mendoakan kebaikan untuk mereka kemungkinan besar dia memang pribadi yang bersahabat lagi ramah. Jika orang itu tidak merasa senang atau merasa tersaingi kemungkinan besar orang itu termasuk pribadi yang iri lagi pendengki.
  16. Perhatikan bagaimana respon orang tersebut ketika membicarakan “kekurangan manusia”. Jika dia lebih sering menilai kekurangan dirinya dibandingkan orang lain kemungkinan besar dia termasuk orang yang intropektif. Jika dia lebih sering menilai kekurangan orang lain dibandingkan dirinya (atau bahkan enggan menilai kekurangannya) kemungkinan besar dia termasuk orang yang pencela.
  17. Perhatian bagaimana respon orang tersebut ketika dihadapkan “masalah yang berat”. Jika orang itu berusaha tetap memecahkan masalah selama masih ada kesempatan untuk melakukannya kemungkinan besar orang itu termasuk pribadi optimis. Jika orang itu lebih banyak mengeluh dan sedikit berusaha kemungkinan besar orang itu termasuk pribadi yang pesimis.
  18. Perhatian bagaimana respon orang tersebut ketika “dimintai pertolongan". Jika dia langsung memberikan bantuan secara sukarela atau dengan berat hati menolak membantu secara halus dengan sebenar-benarnya, maka kemungkinan besar dia memang pribadi penolong. Jika dia mau menolong tapi dengan memberikan prasyarat yang menguntungkan baginya, kemungkinan besar dia termasuk pribadi yang oportunis. Jika dia menolak secara langsung lagi kasar bahkan mencela orang yang meminta pertolongan kemungkinan besar dia termasuk orang yang egois sekali.
  19. Perhatikan bagaimana "diksi" orang tersebut ketika berbicara. Jika dia menggunakan banyak diksi 'merasa' (seperti aku merasa…, aku suka…, aku benci…, menurutku…, dsb) kemungkinan besar dia tipe orang perasa (feeling). Jika dia menggunakan banyak diksi 'memperkirakan' (seperti aku pikir…, aku perkirakan…, berdasarkan sumber…, aku menyadari…, aku tahu.., tidak logis…, dsb) kemungkinan besar dia tipe orang pemikir (thinker).
  20. Perhatikan bagaimana respon orang tersebut ketika dihadapkan pada "masalah bersama" (seperti dalam forum diskusi dan musyawarah). Jika dia proaktif mengajukan gagasan/ solusi kemungkinan besar dia termasuk tipe pemimpin (alami). Jika dia mengikuti pendapat umum tanpa banyak membantah atau tanpa banyak memberikan masukan kemungkinan besar dia termasuk tipe pengikut.

Demikian, kurang lebihnya mohon maaf. Semoga menjawab.

 


Lebih banyak kontribusi Danar Dono:
Memahami Karakter Manusia
Beri kami beri penilaian untuk menghargai karya kami:

0 Tanggapan Pembaca:


Artikel Terpopuler
...
Menghadapi Kesedihan Mendalam

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 09:35:11
Dibaca: 580

...
10 Alasan Rasional Menunda Pernikahan

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 22:49:34
Dibaca: 509

...
Mengatasi Asosial

mikasa ackerman | Sosial-Budaya 2020-03-01 09:40:11
Dibaca: 251

...
Menjadi Pribadi Produktif

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-23 12:21:27
Dibaca: 243

...
Perbedaan Bertabayyun dan Indoktrinasi

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 09:39:59
Dibaca: 236

Tagar Terpopuler