Mengatasi Quarter Life Crisis


Sosial-Budaya
Dipublikasikan: 2020-04-07 13:02:39
Dibaca: 93 Rating: 5/5.0 dari 3 voter Komentar: 0
Bagikan ke Sosial Media:



Apa yang kalian lakukan ketika mengalami Quarter Life Crisis?

Pas banget dengan keadaan saya. Setidaknya selama hampir 5 bulan pada akhir tahun 2019 hingga awal tahun 2020, saya mengalami QLC (quarter life crisis). Perasaan bingung, resah, gelisah, insecure, memikirkan masa depan yang 'belum pasti' menjadi beban pikiran tersendiri bagi saya pribadi.

“Quarter-life crisis (QLC) adalah perasaan khawatir yang hadir atas ketidakpastian kehidupan mendatang seputar relasi, karir, dan kehidupan sosial yang terjadi sekitar usia 20-an.” - Fischer (2008)[1]

QLC sendiri bukanlah gangguan mental, tetapi lebih salah satu fase kehidupan, yakni suatu transisi yang dilalui seorang dari remaja menuju dewasa. Umumnya QLC di awali orang-orang pada usia 18 - 28 tahun.

Penyebab QLC tentu saja tidak lepas dari 3 hal fundamental meliputi: (1) karir, (2) keluarga, (3) jodoh. Saya sendiri menyadari mengalami dilematik terhadap 3 hal fundamental di atas. Saya senantiasa resah tatkala memikirkan:

  1. Karir, nanti setelah lulus kuliah, saya mau menjalankan apa? Apakah saya akan berkarir sesuai dengan minat dan keterampilan yang saya miliki sekarang? Apakah saya bisa berkontribusi terhadap pembangunan masyarakat?
  2. Keluarga, apakah saya bisa membahagiakan kedua orang tua saya? Apakah bisa menjadi teladan bagi adik saya dan anggota keluarga lainnya? Apakah saya bisa menjadi seorang dewasa yang bisa diandalkan keluarga?
  3. Jodoh, apakah mungkin suatu saat nanti ada seorang perempuan yang ‘tulus’ mau menerima saya sebagai pendamping hidupnya? Pada umur berapa nanti saya akan bisa menikah? Apakah saya nanti bisa menjadi imam bagi keluarga kecil saya (kelak)? Apakah saya punya cukup usia untuk menikah dan membangun keluarga kecil saya (kelak)?

Semua pertanyaan itu begitu menganjal di pikiran saya hingga saya terbebani dan merasakan depresi (sedang). Saya mengalami gangguan tidur - susah tidur di malam hari dan senantiasa merasa tidak nyenyak tidur, kehilangan selera makan, kehilangan gairah untuk menjalankan aktivitas, hingga kehilangan konsentrasi dan perasaan sedih yang tak terkendali.

Semakin memikirkan 'masa depan yang belum pasti' semakin membuat saya resah. Pada akhirnya, saya berhenti terlalu memikirkan 'masa depan' tersebut. Saya menyadari bahwa memikirkan sesuatu di masa depan hanya akan membebani psikis.

Oleh karena itu, pada awal tahun 2020 hingga sekarang, saya mulai menata kembali kehidupan saya. Secara garis besar, beberapa upaya yang saya jalankan untuk menghadapi QLC di antaranya:

#1 Mulailah untuk menata rencana hidup. Buatlah perencanaan hidup baik secara jangka pendek, menengah dan panjang. Perkirakanlah apa saja akan akan kita lakukan di masa mendatang berdasarkan potensi, keadaan faktual, dan harapan kita. Jika memungkinkan bisa dibuat terperinci, walaupun biasanya susah karena kesulitan dalam mengambarkan potensi diri, keadaaan faktual beserta segala kemungkinan di masa mendatang. Tapi setidaknya perencanaan hidup akan memberikan kita "kompas" tentang bagaimana menjalankan aktivitas sehari-hari secara terarah.

Misalnya, jika Anda bingung tentang jodoh dan merasa galau tentangnya, maka setidaknya Anda bisa memulai merencanakan perjodohan Anda seperti mulai merancang visi-misi keluarga kecil Anda (kelak), dan merencanakan segala faktor pendukung pembangunan keluarga seperti mendefinisian kriteria pasangan Anda, merencanakan proses pernikahan dari perkenalan hingga prosesi ijab qabul. Semua itu lebih baik Anda rencanakan baik-baik secara rasional, terukur dan spesifik. Anda bisa mempelajari ilmu keluarga dan ilmu relasi

"Banyak masalah hidup bisa diselesaikan dengan 'mencari tahu'."

#2 Fokus pada apa yang kita lakukan hari ini dan jangan terlalu memikirkan 'masa depan' yang belum pasti.

Mulai biasakan diri untuk fokus pada: rencana-eksekusi-evaluasi. Eksekusi segala rencana hidup kita sesuai dengan perencanaan hidup yang telah disusun sebelumnya. Lalu evaluasi hasilnya, jika gagal buat rencana lainnya; atau jika berhasil, usahakan untuk meningkatkan produktivitasnya. Yang demikian akan membuat kita lebih fokus menjalani kehidupan sehari-hari dan merasa 'satu langkah' lebih dekat terhadap harapan hidup kita. Jangan terlalu menyiayiakan energi kita untuk memikirkan masa depan yang belum pasti. Memikirkan sesuatu tanpa eksekusi dan/ atau tanpa menemukan solusi konkrit hanya akan semakin membebani psikis.

"Jangan mau menghabiskan waktu kita hanya untuk meratap dan berkeluh kesah. Kita akan rugi dengan 'cost' yang terbuang entah kesempatan terbuang hingga beban psikis yang semakin menumpuk."

#3 Tidak membandingkan diri kita dengan pencapaian orang lain.

Terkadang kita boleh bersikap "masa bodoh" terhadap pencapaian orang lain. Masa bodoh terhadap pencapaian teman sebaya yang telah menikah di usia 20-an. Masa bodoh terhadap pencapaian teman sebaya yang telah berkarir di usia 20-an. Masa bodoh terhadap pencapaian teman sebaya yang telah lulus di awal usia 20-an. Masa bodoh terhadap apa yang teman sebaya miliki.

Hal ini bukan berarti kita menjadi tidak menghargai pencapaian teman sebaya atau orang lain. Kita sebaiknya menghargai mereka, merasa ikut bahagia ketika mereka mencapai target hidupnya dan tidak iri hati melihat mereka sukses.

Tapi permasalahannya seringkali orang lain atau lingkungan sosial memaksakan standar orang lain terhadap diri kita, sehingga kita bisa jadi mengalami "incompatible" terhadap diri kita. Incompatible ini bisa disebabkan karena perbedaan (gap) antara diri kita dan standar orang lain seperti keadaan faktual, potensi diri, minat-bakat, dan kepribadian serta kapasitas diri. Hasilnya, kita malah berusaha "menjadi orang lain" dan kehilangan eksistensi diri kita.

Pada dasarnya, kita memiliki kondisi tersendiri, potensi tersendiri, kepribadian unik, dan minat-bakat masing-masing, batasan kapasitas diri dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Oleh karena itu, kita memiliki garis waktu masing-masing.

"Bagimu masa depanmu, bagiku masa depanku."

#4 Terimalah keadaan diri kita dan hadapilah!

Terkadang (atau seringkali) apa yang telah kita rencanakan dan eksekusi tidak sesuai harapan hingga kita menjadi kecewa walaupun kita telah berusaha keras untuk menjalankannya sebaik-baiknya. Terkadang (atau seringkali) perasaan kekecewaan tersebut membuat kita menjadi yang pribadi yang emosional. Memang kekecewaan itu wajar - manusiawi, tetapi kekecewaan yang tidak terkendali bisa berubah menjadi frustasi, sinisme, hingga putus asa.

Untuk itu, sebaiknya kita memperbanyak rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Terimalah keadaan diri kita apapun kondisinya. Justru dengan menerima keadaan kita, maka kita akan tahu permasalahan kehidupan kita. Dari situ, kita bisa belajar lebih bersabar dalam menghadapi dinamika dan tantangan kehidupan.

Mulai biasakan diri untuk senantiasa mengambil hikmah di balik suatu peristiwa khususnya periswa yang bersifat tragedi entah studi yang belum sesuai ekspetasi, karir yang belum mapan, kenyataan bahwa sebagian dari kita belum bisa membahagiakan kedua orang tuanya hingga kisah kasih yang entah berantah. Barangkali kita sering mendengar pepatah, "Pelaut handal tidak lahir di laut yang tenang." Faktanya, untuk menjadi pribadi yang tangguh, handal, mahir dalam mengatasi berbagai pergolakan kehidupan, seorang memang harus melewati berbagai tantangan kehidupan yang memayahkan dan menguras emosi dan air mata.

Laut yang dipenuhi badai akan membuat seorang pelaut menjadi mahir dalam mengendalikan kapalnya sehingga dia bisa menjadi seorang pelaut lintas samudera, mengarungi berbagai lautan dan menemukan berbagai daratan yang belum ditemukan sebelumnya. Bahkan konon Thomas Alva Edison baru menemukan bola lampu setelah percobaan yang ke-10.083.[2] Kegagalan tidak selalu berarti buruk atau tidak pula berarti ini telah berakhir. Sebaliknya, ketika kita menyerah atau putus asa maka itulah yang akan mengakhiri usaha kita.

Satu pelajaran yang bisa kita petik dari kegagalan ialah "tidak melakukan kegagalan serupa". Seandainya Edison tidak gagal sebanyak 10.082 kali, apakah mungkin dia akan menemukan bola lampu? Justru setelah mengalami kegagalan sebanyak 10.082 kali, dia bisa membuka kemungkinan yang ke-10.083, sehingga dia bisa menemukan bola lampu yang mampu menyinari dunia. Karena itu, saya mulai membiasakan diri saya untuk menantang diri saya sendiri. Bagi saya berlaku hukum kedewasaan:

“Setiap tantangan yang berhasil kita hadapi akan meningkatkan 1 level up kehidupan kita entah akumulasi pengalaman, kepandaian, kemahiran, maupun produktivitas.”

Barangkali hanya itu sedikit yang bisa saya bagikan dari pengalaman pribadi menghadapi QLC. Kau tidak sendiri kawan, ada jutaan manusia di luar sana yang sama-sama berjuang menghadapi QLC di garis kehidupannya masing-masing. Dan saya tidak malu mengakui salah satu dari jutaan manusia yang terkena QLC itu, hehe..

Selamat berjuang menghadapi QLC, kawan! Semoga kita bisa melewatinya.


Lebih banyak kontribusi Danar Dono:
Mengatasi Quarter Life Crisis
Beri kami beri penilaian untuk menghargai karya kami:

0 Tanggapan Pembaca:


Artikel Terpopuler
...
Menghadapi Kesedihan Mendalam

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 09:35:11
Dibaca: 579

...
10 Alasan Rasional Menunda Pernikahan

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 22:49:34
Dibaca: 509

...
Mengatasi Asosial

mikasa ackerman | Sosial-Budaya 2020-03-01 09:40:11
Dibaca: 251

...
Menjadi Pribadi Produktif

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-23 12:21:27
Dibaca: 243

...
Perbedaan Bertabayyun dan Indoktrinasi

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 09:39:59
Dibaca: 235

Tagar Terpopuler