Mengatasi Asosial


Sosial-Budaya
Dipublikasikan: 2020-03-01 09:40:11
Dibaca: 251 Rating: 4/5.0 dari 3 voter Komentar: 0
Bagikan ke Sosial Media:



Bagaimana menyembuhkan penderita asosial?

Jawab singkatnya, seorang asosial bisa menjadi pribadi sosial - mudah berbaur dengan lingkungannya. Anda tidak perlu malu untuk mengakui sebagai orang asosial. Anda tidak sendiri, sebab dulunya saya juga seorang yang asosial. Karena pertanyaan ini mengisyaratkan 'pengalaman', maka saya akan menjelaskan bagaimana cara mengubah seorang asosial menjadi seorang sosial berdasarkan pengalaman saya.

Sebelum melangkah lebih lanjut, saya akan menjelaskan tentang definisi asosial dan antisosial yang mana 2 istilah tersebut sering tertukar atau bias makna. Anti sosial merujuk pada perilaku membenci orang lain atau antagonisme terhadap orang lain maupun tatanan sosial. Orang yang mengalami anti sosial cenderung akan berbuat kriminalitas, melakukan berbagai kenakalan remaja seperti bolos, penuh tipu muslihat, mengabaikan hukum, melanggar hak orang lain, serta kasar hingga penyalahgunaan obat-obatan terlarang.

Orang yang antisosial tidak sama dengan orang yang asosial. Asosial didefinisikan sebagai gangguan kepribadian yang ditandai dengan menarik diri dan menghindar secara sukarela terhadap interaksi sosial apapun. Asosialitas yang ekstrem biasanya timbul pada orang-orang yang mengalami berbagai kondisi klinis tertentu, seperti gangguan bipolar, autisme, skizofrenia, depresi, sindrom asperger, dan social anxiety disorder.[1]

Saya sendiri juga salah mengira asosial sebagai anti sosial. Padahal keduanya merujuk pada gangguan mental yang berbeda (walaupun seorang bisa saja terkena 2 atau lebih gangguan kepribadian di waktu bersamaan). Apa yang dulu saya telah alami lebih tepat disebut “asosial”, yakni menghindar dari interaksi sosial. Dulu saya sangat menghindari interaksi sosial bahkan pada tingkat parahnya saya merasa pusing dan cemas ketika berada di kerumunan - merasa cemas dan terancam keselamatannya, seakan-akan ada seorang yang akan berbuat jahat kepada saya. Hal ini membuat saya seringkali frustasi dan menyakiti diri saya sendiri, setidaknya menyalahkan diri sendiri atas kondisi saya tersebut.

Saya tidak pernah memeriksa diri saya kepada unit kesehatan mental terkait karena saya tidak punya akses waktu itu. Tapi nampaknya melihat kecenderungan tersebut bisa jadi saya mengalami gangguan mental bernama "kecemasan sosial" (social anxiety disorder), yakni penyakit kecemasan yang ditandai dengan munculnya rasa takut yang kuat pada situasi-situasi sosial tertentu, yang menyebabkan tekanan serta ketidakmampuan untuk berfungsi secara normal dalam beberapa bagian kehidupan yang dijalani penderita.[2]

Bisa jadi gangguan mental tersebut disebabkan luka batin saya di masa lampau. Perlu diketahui saya adalah korban penindasan dan perundungan sewaktu bersekolah dasar (SD) selama bertahun-tahun (Silahkan baca: Jawaban Danar Dono untuk Apa momen paling mengerikan yang pernah kamu alami di sekolahmu?). Luka masa lalu tersebut membuatku merasa rasa takut-terancam ketika berada dalam kerumunan. Alam bawah sadarku secara refleks merespon kerumunan sebagai 'alarm bahaya'. Singkatnya, saya benar-benar takut dan khawatir selama masa itu.

Hal ini juga sebagai peringatan bagi kita semuanya untuk lebih “awareness” terhadap perundungan (bullying) yang seringkali dialami khususnya oleh anak-anak kecil. Anak kecil yang mengalami perundungan sangat rentan akan mengalami gangguan kesehatan mental di kemudian hari sebagaimana yang dulu saya alami. Rasa minder, nerveous, asosial hingga gangguan kepribadian akut seperti anti sosial bisa jadi disebabkan luka-luka batin hasil dari perundungan yang tak terselesaikan di masa lalu.

Seringkali orang-orang menyepelekan kondisi semacam ini. Saya sebagai salah satu mantan penderita cukup memahami betul bagaimana penderitaan dan trauma para korban tersebut. Mereka lebih butuh rasa empati dan dukungan dari orang-orang terdekatnya daripada pendapat-pendapat yang tak bermanfaat (baca: komentar sinis). Jika orang-orang terdekat saja tak mau membantu mereka, lalu kepada siapa lagi mereka akan mengadu? Karena itu, berilah mereka dukungan sekecil apapun nilainya. Sekedar ucapan “kami peduli terhadapmu” akan sangat bermakna bagi pemulihan kondisi jiwa mereka.

Kembali ke permasalahannya, beruntungnya saya segera menyadari kondisi mental tersebut. Saya berusaha optimis untuk membangun kepercayaan diri saya supaya saya bisa menjalan peran sosial tanpa merasa khawatir atau cemas. Bagaimana caranya? Beberapa hal yang saya lakukan di antaranya:

  1. Mendekatkan diri kepada Allah SWT. Saya mulai belajar ilmu agama dan belajar menjadi pribadi yang lebih religius dalam menjalankan peran saya sebagai muslim. Bagi saya, Tuhan adalah satu-satunya tempat untuk mengadu dan berkeluh kesah atas segala kekurangan diri saya dan memohon diberikan kemudahan dan petunjuk untuk mengatasi penderitaan hidup saya.
  2. Mencari teman-teman yang baik. Saya begitu selektif dalam memilih teman dan hanya akan mempercayainya jika dia memang benar-benar orang yang baik terhadap sesama. Hal ini berguna untuk menghilangkan trauma saya atas 'orang-orang jahat' pada masa SD yang masih membekas dalam alam bawah sadar sekaligus meyakinkan diri saya bahwa di luar sana masih ada orang-orang yang baik dan peduli terhadap diri saya.
  3. Bergabung dalam keorganisasian dan kegiatan amal sosial. Semasa sekolah khususnya selama SMK hingga kuliah, saya memutuskan untuk bergabung dalam keorganisasian dan ikut serta berbagai kegiatan amal sosial. Hal ini cukup efektif untuk melatih keterampilan bersosial saya sekaligus melatih mental saya.

Berkat dukungan dari berbagai pihak, alhamdulillah saya berhasil "berdamai" dengan masa lalu. Barangkali saya memang tetap introvert (introvert bukan gangguan kepribadian), tetapi saat ini saya telah terbebas sepenuhnya dari asosial, tidak merasa khawatir atau takut ketika berada di kerumunan dan dapat kembali menjalankan peran sosial saya dalam kehidupan bermasyarakat.

Perlu diketahui, apa yang saya lakukan di atas berjalan selama bertahun-tahun dan dilakukan secara intensif, bukan instan. Jadi, untuk memulihkan kesehatan mental seorang memang membutuhkan proses yang panjang dan kesabaran yang gigih khususnya bagi penderitanya. Yang paling fundamental untuk bisa pulih dari gangguan mental adalah kemauan dari penderita itu sendiri untuk menyembuhkan mental mereka. Jika mereka mengabaikan hal ini, dan merasa ‘dirinya baik-baik saja’, maka tak mungkin upaya treatment-pemulihan bisa dilaksanakan, bukan? Nah, di situlah peran serta dari orang-orang terdekat untuk mengindentifikasi, mengajak dan memotivasi mereka untuk konsisten melakukan treatment.

Satu lagi, kalau bisa manfaatkanlah akses layanan kesehatan mental. Seingat saya, BPJS juga mengover pengobatan mental. Zaman kini akses kesehatan lebih dimudahkan. Jadi, sebaiknya manfaatkan pengobatan mental jika dimungkinkan untuk mempercepat pemulihan jiwa.

Terakhir, siapapun Anda yang mengalami gangguan asosial dan semacam, saya berdoa untuk Anda: Semoga Anda lekas sembuh dan bisa kembali normal dalam menjalani kehidupan sehari-hari tanpa terbebani masa lalu Anda.

Semoga membantu.

Catatan Kaki

[2] Gangguan kecemasan sosial - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

 


Lebih banyak kontribusi mikasa ackerman:
Mengatasi Asosial
Beri kami beri penilaian untuk menghargai karya kami:

0 Tanggapan Pembaca:


Artikel Terpopuler
...
Menghadapi Kesedihan Mendalam

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 09:35:11
Dibaca: 579

...
10 Alasan Rasional Menunda Pernikahan

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 22:49:34
Dibaca: 509

...
Mengatasi Asosial

mikasa ackerman | Sosial-Budaya 2020-03-01 09:40:11
Dibaca: 251

...
Menjadi Pribadi Produktif

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-23 12:21:27
Dibaca: 243

...
Perbedaan Bertabayyun dan Indoktrinasi

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 09:39:59
Dibaca: 234

Tagar Terpopuler