Mengubah Karakter Menjadi Lebih Baik


Sosial-Budaya
Dipublikasikan: 2020-04-07 16:31:17
Dibaca: 75 Rating: 4.5/5.0 dari 4 voter Komentar: 0
Bagikan ke Sosial Media:



Bagaimana mengubah karakter menjadi lebih baik?

Pengertian Kepribadian

“Sebuah organisasi dinamis di dalam sistem psikis dan fisik individu yang menentukan karakteristik perilaku dan pikirannya.” - Gordon Allport

Secara eksplisit Allport menyebutkan, kepribadian secara teratur tumbuh dan mengalami perubahan.[1] Jadi, kepribadian itu memang bisa berkembang seiring dengan perubahan (pengalaman) yang dialami oleh individu bersangkutan.

Tipologi Kepribadian

Menurut Carl Jung, berdasarkan gairah (cara mengisi energinya), kepribadian itu digolongkan menjadi 3 macam tipe meliputi:

  1. Ekstrovert, yakni pribadi yang mendapatkan gairah (atau energi) dari interaksi sosial.
  2. Introvert, yakni pribadi yang mendapatkan gairah lewat menyendiri.
  3. Ambivert, yakni pribadi yang bisa memperoleh energi dari interaksi sosial maupun menyendiri.

Ekstrover biasanya memiliki kepribadian yang terbuka dan senang bergaul, serta memiliki kepedulian yang tinggi terhadap apa yang terjadi di sekitar mereka. Sementara introver, biasanya cenderung pendiam, suka merenung, dan lebih perduli tentang pemikiran mereka dalam dunia mereka sendiri. Adapun ambivert dianggap tipe penyeimbang di antara keduanya, walaupun jarang ada orang semacam ini.

Struktur Kepribadian

Menurut Eysenck , kepribadian sebagai organisasi tingkah laku memiliki empat tingkatan hierarkis, berturut-turut dari hierarki yang tinggi ke hierarki yang rendah meliputi:

  1. Hirarki tertinggi yakni "tipe" (baca: supertrait) sebagai kumpulan dari trait, yang mewadahi kombinasi trait dalam suatu dimensi yang luas.
  2. Hirarki kedua yakni "karakter" (baca: trait) sebagai kumpulan kecenderungan kegiatan, koleksi respon yang saling berkaitan atau mempunyai persamaan tertentu. Ini adalah disposisi kepribadian yang penting dan permanen.
  3. Hirarki ketiga yakni "kebiasaan" (baca: habitual response) sebagai tingkah laku atau berfikir, kumpulan respon spesifik, tingkah laku/ pikiran yang muncul kembali untuk merespon kejadian yang mirip.
  4. Hirarki terendah yakni "respon spesifik" (baca: spesific responses) sebagai tingkah laku yang secara aktual dapat diamati, yang berfungsi sebagai respon terhadap suatu kejadian.

Lebih lanjut struktur kepribadian digambarkan sebagai berikut:

Gambar struktur kepribadian[2]

Menurut Eysenck , struktur kepribadian terdiri atas empat komponen yang terhubung secara hirarkis. Supertrait merupakan wadah dari semua trait (karakter). Supertrait ini terbagi menjadi 3 dimensi meliputi: psikotisme (selanjutnya disebut sebagai faktor P); ekstraversi (selanjutnya disebut sebagai faktor E), neurotisme (selanjutnya disebut sebagai faktor N). Kendati demikian, beliau tidak menafikan mungkin saja ada supertrait lainnya yang belum terindentifikasi.[3]

Ketiganya supertrait tersebut bersifat "bipolar", artinya tersusun atas 2 kutub yang saling berlainan. Misalnya:

  1. Faktor E mempunyai kutub introvert dan kutub ekstrovert.
  2. Faktor P mempunyai kutub psikotik dan kutub superego.
  3. Faktor N mempunyai kutub neurotisme dan kutub stabilitas.

Di bawah supertrait tedapat trait yang lebih dikenal sebagai "karakter" atau sifat-sifat individu. Trait dibentuk dari akumulasi berbagai "kebiasaan" yang dilakukan individu. Ilustrasi lebih lebih lanjut ditunjukkan pada gambar di bawah ini:

Gambar traits - karakter tersusun atas berbagai kebiasaan[4]

Misalnya karakter "terhormat" (respect) dibentuk dari berbagai akumulasi kebiasaan meliputi: (1) menghormati orang lain, (2) menghormati diri sendiri, (3) sopan santun, (4) toleransi, (5) kebersihan. Untuk memperoleh karakter kehormatan, seorang harus melewati berbagai kebiasaan tersebut hingga memperoleh karakter "terhormat".

Adapun untuk membentuk suatu kebiasaan itu memerlukan pengulangan terhadap aktivitas/ pekerjaan/ tugas tertentu (spesific response) secara intensif dan kontinyu. Misalnya, untuk membuat seorang menjadi terbiasa atas "kebersihan" diri bisa dilakukan dengan mengulangi perbuatan mandi 2 kali sehari, mencuci tangan sebelum makan, menyapu rumahnya setiap hari.

Bagaimana kita tahu suatu perbuatan itu sudah menjadi kebiasaan? Seorang dinilai telah terbiasa ketika:

  1. Merasa nyaman melakukannya.
  2. Mudah melakukannya atau tidak kesulitan melakukannya.
  3. Merasa ada yang 'menganjal' ketika meninggalkannya.
  4. Mengerjakan secara sukarela - tanpa paksaan.

Misalnya, seorang yang terbiasa mandi, ketika dia meninggalkan perbuatan mandi walaupun sehari saja, maka biasanya dia akan merasa kurang nyaman, tidak betah terhadap kondisinya. Begitupun sebaliknya jika seorang sudah terbiasa tidak mandi, maka ketika disuruh mandi, dia biasanya akan merasa keberatan.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk mengubah karakter seorang menjadi lebih baik maka seorang itu dituntut senantiasa belajar - mempelajari hal-hal yang positif, dimulai dari membiasakan diri untuk melakukan aktivitas positif secara intensif dan kontinyu hingga dia merasa terbiasa untuk melakukannya dan/ atau tidak bisa meninggalkan perbuatan positif tersebut.

Demikian, kurang lebihnya mohon maaf. Semoga bermanfaat.

 


Lebih banyak kontribusi Danar Dono:
Mengubah Karakter Menjadi Lebih Baik
Beri kami beri penilaian untuk menghargai karya kami:

0 Tanggapan Pembaca:


Artikel Terpopuler
...
Menghadapi Kesedihan Mendalam

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 09:35:11
Dibaca: 579

...
10 Alasan Rasional Menunda Pernikahan

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 22:49:34
Dibaca: 508

...
Mengatasi Asosial

mikasa ackerman | Sosial-Budaya 2020-03-01 09:40:11
Dibaca: 249

...
Menjadi Pribadi Produktif

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-23 12:21:27
Dibaca: 242

...
Perbedaan Bertabayyun dan Indoktrinasi

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 09:39:59
Dibaca: 234

Tagar Terpopuler