Menjadi Pribadi Produktif


Sosial-Budaya
Dipublikasikan: 2020-02-23 12:21:27
Dibaca: 243 Rating: 3/5.0 dari 2 voter Komentar: 0
Bagikan ke Sosial Media:



Menjadi produktif adalah keinginan bagi setiap orang yang mempunyai target hidup. Bagaimana cara menjadi produktif?

Saya anggap tulisan ini sebagai pengingat diri pribadi beserta orang-orang yang membacanya mengingat 'menjadi produktif' adalah preferensi dari masing-masing pribadi.

Produktif adalah menghasilkan sesuatu (output) yang bermanfaat/ berguna/ bernilai/ berharga lebih besar daripada biaya-resiko yang dikeluarkan dalam berusaha.

Produktif = Output > (biaya + resiko)

Lawan dari produktif adalah “boros”, yakni mengeluarkan biaya-resiko lebih besar daripada sesuatu yang dihasilkan (output).

Boros = Output < (biaya + resiko)

Boros bisa berbentuk bermacam-macam, misalnya kemalasan. Kenapa kemalasan bisa dikategorikan sebagai keborosan? Karena banyak kesempatan yang dihabiskan beserta sumber dayanya daripada sesuatu yang dihasilkan dari kemalasan itu sendiri.

Kerja ngoyo pun terkadang bisa menjadi boros ketika seorang memaksakan dirinya tetap menerima beban kerja hingga dirinya jatuh sakit sehingga dia mengeluarkan biaya lebih untuk berobat daripada pendapatan yang diperolehnya dari kerja ngoyo.

Pada dasarnya, untuk “menjadi produktif” strateginya tidak bisa lepas dari 3 strategi fundamental meliputi:

  1. Memaksimalkan output
  2. Meminimalisir biaya pengorbanan
  3. Mengurangi dan mencegah terjadi resiko atas musibah tertentu

Oleh karena itu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan supaya lebih produktif di antaranya:

  1. Berinvestasi, yakni aktivitas menanamkan modal pada unit usaha tertentu untuk menunda konsumsi saat ini dan menunggu hasil di kemudian hari. Contoh: saham, reksadana, deposito. Dengan investasi, kita akan menghasilkan: kembalinya modal + keuntungan + menekan angka inflasi. Modal Anda akan kembali tatkala Anda mengambil/ menjual investasi Anda. Keuntungan akan diperoleh tatkala Anda memperoleh deviden, bunga, keuntungan penjualan, dsb. Tertekannya angka inflasi akan menjaga nilai investasi Anda menjadi stabil. Karena dengan berinvestasi sama saja meningkatkan iklim bisnis di masyarakat yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan dan menekan angka inflasi. Investasi memang tidak selalu produktif (artinya Anda bisa rugi jikalau unit usaha yang diinvestasinya merugi), tetapi biasanya lebih produktf daripada menabung selama pengelolaannya tepat.
  2. Berolahraga, yakni segala aktivitas mengolah kebugaran jasmaniah. Adapun manfaat berolahraga di antaranya: (a) meningkatkan mood, (b) meningkatkan daya tahan tubuh, (c) meningkatkan kekuatan tubuh, (d) yang paling penting adalah menjaga tubuh tetap sehat dan mencegah terkena penyakit kronis di kemudian hari (khususnya ketika sudah menginjak usia lanjut) sehingga menghemat pengeluaran berobat. Bayangkan berapa biaya yang dikeluarkan seorang ketika dia sakit dibandingkan biaya yang dia keluarkan untuk berolahraga setiap hari?
  3. Pendidikan, yakni segala aktivitas mengolah kapasistas diri baik secara pengetahuan, karakter, keterampilan dan spiritual. Yang ini tidak perlu diragukan lagi. Diperkirakan 99% keberhasilan seseorang dicapai dengan pendidikan terlepas bagaimana dia mendapatkan pendidikan entah formal atau informal, 1%-nya ditentukan oleh faktor keberuntungan (entah mendapatkan harta warisan ortu, dsb). Beberapa manfaat pendidikan di antaranya: (a) meningkatkan kapasitas pribadi, (b) kemudahan akses pekerjaan, (c) memudahkan dalam memecahkan masalah sosial.
  4. Berhemat, yakni mengeluarkan biaya belanja sesuai dengan prioritas kebutuhan. Bayangkan berapa rupiah yang bisa seseorang tabung dari kegiatan berhemat membatasi diri dari nongkrong di cafe, jika rata-rata biaya nongkrong di cafe Rp. 50 ribu per nongkrong, katakanlah biasanya dia nongkrong sekali seminggu, artinya total biaya setahun: Rp. 50.000,- x 4 x 12 = Rp. 2.400.000,-. Jika dia menghemat hanya nongkrong sekali sebulan saja artinya total biaya setahun: Rp. 50.000,- x 1 x 12 = Rp. 600.000,-. Artinya dia berhasil menghemat pengeluaran setahun sebesar Rp. 2.400.000 - Rp. 600.000 = Rp. 1.800.000,-. Bayangkan jika aktivitas berhemat diaplikasikan pada berbagai pengeluaran lainnya. Bisa dipastikan lebih banyak rupiah yang terselamatkan daripada pengeluaran tidak diperlukan. Cara ini memang tampak klasik. Kendati demikian, masih banyak orang yang mengimplementasikan strategi berhemat untuk meningkatkan produktivitas seperti yang dilakukan para pengusaha dalam kegiatan produksi.
  5. Beramal saleh, yakni segala aktivitas menebarkan kebaikan kepada diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Saya berikan ilustrasi sederhana dari kegiatan "bertutur kata secara bijak". Berapa banyak manfaat yang bisa dihasilkan dari berkata yang baik dan menahan diri dari perkataan yang buruk entah gibah, fitnah, hatespeech, dsb? Bukankah dengan berkata yang baik, maka kehidupan bermasyarakat menjadi lebih harmonis, damai, dan hikmat. Bayangkan jika banyak orang berkata yang buruk, berapa biaya yang dikeluarkan untuk mengatasi hoaks, konflik horizontal di berbagai lapisan masyarakat dimana biaya-biaya tersebut seharusnya bisa disalurkan untuk program sosial lainnya? Secara sosiologis, jelas menjaga tutur kata secara bijaksana sangat menguntungkan bagi kondusifitas lingkungan sosial. Jika Anda melihatnya dari kacamata spiritual-teologis, maka Anda akan melihat keuntungan lebih besar daripada ‘sekedar manfaat sosial’.
  6. Kerja cerdas, yakni bekerja secara kreatif dengan memaksimalkan hasil dan meminimalisir biaya-resiko. Kunci dari kerja cerdas adalah memaksimalkan fungsi "kreatifitas" (misalnya dengan memanfaatkan teknologi tepat guna, membagi beban pekerjaan, dsb) dalam bekerja dan menekan aktivitas fisik. Saya berikan ilustrasi sederhana, akan lebih efektif mereview materi kuliah setidaknya 30 menit setelah kuliah daripada belajar hingga larut malam selama seminggu dalam menghadapi ujian akhir semester. Hal ini bisa terjadi karena orang yang mereview materi kuliah biasanya lebih memahami (artinya materi kuliahnya tersimpan dalam long term memory - ingatan jangka panjang) daripada orang yang belajar keras selama seminggu penuh sebelum ujian mengingat dia hanya ‘menghafalnya’ (artinya materi kuliahnya hanya tersimpan di short term memory - ingatan jangka pendek). Sehingga ketika ujian berlangsung, orang yang mereview materi kuliah cenderung lebih mudah mengerjakan soal daripada orang yang belajar seminggu penuh.

Semoga menjawab.


Lebih banyak kontribusi Danar Dono:
Menjadi Pribadi Produktif
Beri kami beri penilaian untuk menghargai karya kami:

0 Tanggapan Pembaca:


Artikel Terpopuler
...
Menghadapi Kesedihan Mendalam

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 09:35:11
Dibaca: 579

...
10 Alasan Rasional Menunda Pernikahan

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 22:49:34
Dibaca: 509

...
Mengatasi Asosial

mikasa ackerman | Sosial-Budaya 2020-03-01 09:40:11
Dibaca: 249

...
Menjadi Pribadi Produktif

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-23 12:21:27
Dibaca: 243

...
Perbedaan Bertabayyun dan Indoktrinasi

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 09:39:59
Dibaca: 234

Tagar Terpopuler