Perbedaan berpikir subjektif dan objektif


Sosial-Budaya
Dipublikasikan: 2020-02-24 09:17:27
Dibaca: 100 Rating: 5/5.0 dari 3 voter Komentar: 0
Bagikan ke Sosial Media:



Bagaimana perbedaan berpikir subjektif dan objektif

Menurut KBBI, berpikir adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu; menimbang-nimbang dalam ingatan. Pada dasarnya berpikir itu merupakan kegiatan seorang dalam memahami, menilai atau memutuskan sesuatu terhadap permasalahan tertentu menggunakan akal (artinya terjadi pengolahan data menjadi informasi/ pengetahuan dalam otak kita).

Menurut KBBI, objektif berarti mengenai keadaan yang sebenarnya tanpa dipengaruhi pendapat atau pandangan pribadi. Sedangkan subjektif berarti mengenai atau menurut pandangan (perasaan) sendiri, tidak langsung mengenai pokok atau halnya. Jadi berpikir objektif dan berpikir subjektif ialah:

  1. Berpikir objektif ialah berpikir sesuai dengan objeknya untuk memahami, menilai, menyikapi fenomena tertentu dengan menggunakan kerangka berpikir tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan.
  2. Berpikir subjektif ialah berpikir sesuai dengan persepsi subjeknya untuk memahami, menilai atau menyikapi fenomena tertentu tanpa menggunakan kerangka berpikir yang bisa dipertanggungjawabkan.

Berikut ini disajikan perbedaan berpikir objektif dan berpikir subjektif:

Saya akan memberikan ilustrasi terkait perbedaan berpikir objektif dan berpikir subjektif dalam kehidupan nyata. Sebagai catatan tokoh berikut fiksi tetapi peristiwanya nyata.

  1. Tuno dirujukkan pada orang yang berpikir subjektif
  2. Tono dirujukkan pada orang yang berpikir objektif

“Alkisah kisah Tono dan Tuno sedang berjalan di persawahaan, dekat suatu desa. Mereka berdua menjumpai seorang pemuda berpakaian klimis sedang memukul seorang pemuda berpakaian lusuh hingga babak belur. Bagaimana penyikapan Tono dan Tuna melihat kejadian perkelahian tersebut?”

  1. Tuno mengutuk pemuda berpakaian klimis tersebut dan menghakiminya sebagai orang kaya yang zalim terhadap orang miskin. Di sini jelas Tuno berpihak kepada pemuda berpakaian lusuh itu.
  2. Tono tidak mau berpihak kepada salah satu dari kedua pemuda itu hingga dia meminta keterangan dari keduanya. Ternyata dari hasil pengakuan keduanya diketahui bahwa pemuda berpakaian klimis itu merupakan korban dari pembegalan yang berusaha membela dirinya ketika diserang pemuda berpakaian lusuh yakni seorang begal. Dari pemahaman ini, Tono dapat menyimpulkan ternyata yang bersalah adalah si pemuda berpakaian lusuh, sedangkan pemuda berpakaian klimis tidak bersalah karena dia hanya membela dirinya.

Dari ilustrasi tersebut tergambar perbedaan jelas antara orang yang berpikir objektif dan orang yang berpikir subjektif.

  1. Orang yang berpikir subjektif biasanya memang tergesa-gesa dalam menyimpulkan dan menilai sesuatu sesuai dengan keyakinan pribadinya.
  2. Orang yang berpikir objektif tidak akan menyimpulkan atau menilai sesuatu hingga dia menelitinya hingga mendapatkan pemahaman yang benar-benar teruji.

Dalam kehidupan sehari-hari, seorang biasanya lebih mudah berpikir subjektif daripada berpikir objektif khususnya dalam memandang atau menyikapi suatu fenomena tertentu, misalnya:

  1. Warga masyarakat menilai kebijakan ekonomi dari pemerintah pusat itu kapitalistik hanya karena memandang elit pemerintah berasal dari kalangan menengah ke atas.
  2. Seorang karyawan menilai kebijakan perusahaan tidak berpihak kepada karyawan karena dia merasa dirugikan. Padahal dia tidak benar-benar mengetahui pertimbangan rasional dari penerapan kebijakan perusahaan tersebut. Dia hanya menilai kebijakan perusahan dari kacamatanya sebagai pekerja.
  3. Seorang anak menilai kedua orang tunya terlalu mengekangnya, tidak memberikan kebebasan seperti yang dia inginkan. Padahal kenyataannya kedua orangnya mengatur kehidupan anaknya supaya dia tidak terjerumus dalam pergaulan bebas dengan pengaturan yang rasional.
  4. Seorang remaja menganggap pergaulan bebas itu wajar karena dia merasa teman-teman sebayanya turut melakukannya.
  5. Seorang hamba menyalahkan Tuhan hanya karena dia merasa hidupnya serba sengsara menghadapi ujian kehidupan sehingga dia merasa seolah-olah Tuhan tidak pernah menolongnya.

Semua contoh di atas merupakan contoh konkrit bagaimana seorang berpikir subjektif dalam kehidupan sehari-hari.

Ada beberapa alasan seorang berpikir subjektif di antaranya:

  1. Terbawa emosi - seperti takut, membenci atau marah dengan pihak tertentu.
  2. Terbiasa mengikuti hawa nafsu.
  3. Tidak terdidik untuk berpikir objektif.
  4. Dikuasai oleh kepentingan duniawi.
  5. Tidak mempunyai cukup waktu - seperti ketika menghadapi situasi krisis.

Sebenarnya untuk berpikir objektif tidaklah susah. Selama seorang mencintai kebenaran - menerima segala pengetahuan yang teruji dengan segala konsekuensinya, maka dia akan berpikir objektif. Tapi memang berpikir objektif butuh dibiasakan.

Oleh karena itu, berpikir objektif seharusnya memang dibiasakan sejak dini dan dibudayakan secara masif terstruktur melalui keluarga, organisasi masyarakat, pendidikan, kehidupan bermasyarakat dan beragama.

Sungguh agama (Islam) sebenarnya juga senantiasa membimbing penganutnya untuk senantiasa berpikir objektif.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” [QS. Al Israa' ayat 36]

Semoga kita bisa senantisa berpikir objektif menyikapi segala peristiwa.

 


Lebih banyak kontribusi Danar Dono:
Perbedaan berpikir subjektif dan objektif
Beri kami beri penilaian untuk menghargai karya kami:

0 Tanggapan Pembaca:


Artikel Terpopuler
...
Menghadapi Kesedihan Mendalam

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 09:35:11
Dibaca: 579

...
10 Alasan Rasional Menunda Pernikahan

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 22:49:34
Dibaca: 509

...
Mengatasi Asosial

mikasa ackerman | Sosial-Budaya 2020-03-01 09:40:11
Dibaca: 251

...
Menjadi Pribadi Produktif

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-23 12:21:27
Dibaca: 243

...
Perbedaan Bertabayyun dan Indoktrinasi

Danar Dono | Sosial-Budaya 2020-02-24 09:39:59
Dibaca: 235

Tagar Terpopuler